Rabu, 23 Mei 2012

Satu Hari, di Akhir Tahun...



"Ibu masuk..?"
"Iya sayang ayo kita masuk ajak temen temennya"
Aku berdiri dari kursiku dan ku simpan beberapa buku laporan harian yang sedang ku kerjakan, ku lirik jam sudah menunjuk di angka 9.30, waktu istirahat anak anak sudah habis, jadi ku iya kan saat Wulan bertanya  barusan.Anak anak berlarian masuk dan mengerubungi mejaku, beberapa wajah mungil ini nampak merah mengkilat basah oleh keringat, hmmm... aktifitas mereka memang tidak ada duanya berlari dan bergerak terus menerus selam 30 menit waktu istirahat membuat darah di tubuh mereka mengalir deras dan lancar. Ku ajak mereka untuk cuci tangan dan membasuh wajah mereka agar lebih segar.
15 menit kemudian, aku sudah duduk bersimpuh di lingkaran bersama anak anak yang hendak berdoa bersiap hendak pulang, namun sebagian besar anak anakku masih berlarian di dalam kelas tak menghiraukan tepuk tangannku yang mengajak mereka duduk di lingkaran.
"Nabil, Kiki, Fathan, ayo duduk sayang.. kita mau berdoa  .."Kutangkap lengan mereka satu satu ketika mereka berkelit hendak lari, malah senang mereka menggodaku, dan aku menghela nafas."Siapa yang mau pulangggg....?."
"Akuuu....." yang menjawab mereka yang sudah duduk manis berhimpitan didekatku semua ingin menjadi yang paling dekat denganku jadi lingkaran tak juga bagus bertumpuk di sisi kanan kiriku."Tepuk satu... prokk... tepuk dua... prok..." Yang tepuk tetap mereka yang bertumpuk ini, yang lain masih sibuk dengan kesenangannya masing masing, tetap dengan lari larian berkejaran di ruangan , enath apa yang membuat mereka begitu senang saling mengejar, ada yang ketawa ketawa saling dorong, ada juga yang ngobrol dengan asyiknya enath apa topiknya seru banget sepertinya sehingga tak peduli padaku yang berkali kali gagal meminta perhatian mereka.
"Satu... dua... tiga.... empat ... lima....." Aku berhitung tetap duduk di lingkaran sambil memejamkan mata."Enam.. tujuh ... delapan... sembilan...." Ku dengar anak anak berlarian berebut tempat duduk di lingkaran sambil mengikutiku berhitung. Alhamdulillah ... hatiku lega akhirnya tertarik juga mereka."Sepuluh ... sebelas ... dua belas.... tiga belas..." Tanpa ku lihat sebab aku juga menutup mata dengan tenang, aku tahu sambil ngos ngosan mereka mencoba menutup mata, peraturannya yang sudah bisa memejamkan mata dengan baik maka tak lagi ikut berhitung, mata di tutup dengan sikap tenang , menarik nafas dalam dalam, lalu di hembusakan lagi, terus begitu berulang ulang sampai hitungan benar benar berhenti dan tak ada yang mengintip, jika mereka semua mengikuti peraturan akan ada kejutan, begitu permainannya.
"Dua puluh satu... dua puluh dua.. dua puluh tiga .. dua puluh empat..."Dan hitungan benar benar berhenti... tak ada satu pun anak yang mengeluarkan suara, giliran aku membuka mata dan bersuaara dengan perlahan agar mereka tetap berkonsentrasi.
"Datang tidak ya..... ? apakah masih ada yang mengintip...?  kalau masih ada yang tidak menutup mata dengan benar maka dia tidak akan datang.." Subhanalloh... setiap kali situasinya begini aku selalu takjub, semua duduk rapi melingkar dengan mata tertutup tangan di pangkuan, sungguh wajah wajah polos yang berenergi luar biasa, ternyata hanya membutuhkan hitungan tak lebih dari 25, berarti sekitar 25 detik mereka sudah bisa berkonsetrasi dengan cepat.
Kegiatan menutup mata ini, sengaja ku berikan pada mereka dengan tujuan menurunkan aktifitas mereka yang pasti membuat segala pergerakkan di dalam tubuhnya juga berada pada tingkat yang maksimal, dengan menutup mata aku berharap, mereka bisa cukup tenang, adrenalin nya juga menurun, tapi konsentrasi tetap optimal, sehingga waktu pulang mereka dalam kondisi yang prima tidak kelelahan, mereka pulang dengan badan yang bugar. Insya Alloh.
Agar mereka mau menutup mata, aku katakan jika mereka tak mengintip akan ada kejutan, nanti ada beberapa dari anak anak yang mendapatkannya, tapi di larang keras mengatakan apapun kejutan dan hadiah yang mereka dapatkan pada temannya sebab jika di bocorkan maka dia tak akan datang lagi memberi kejutan serta hadiah pun tak akan ada lagi, ku buat perjanjian itu, dan mereka menyetujuinya dengan senang hati, permainan ini sudah berlangsung sekitar dua bulan lebih dan anak anak masih antusias.
Dan aku pun berkeliling di dalam lingkaran memastikan semua anak anak menutup mata dengan baik tanpa mengintip dan mencari anak  yang paling baik sikapnya sejak awal."Mana yaaa..... anak yang paling sholeh.. anak yang paling baik... anak yang paling manis hari ini.." Suaraku ku buat perlahan, setengah berbisik menjaga agar mereka tetap konsentrasi.Tak ada satu pun yang berteriak akuuuuu...di bibir mereka tersungging senyum berharap merekalah yang terpilih.
"Anakku sayang... Ibu sayang padamu... jadilah anak pintar matahari bangsaku.." Aku bersenandung perlahan dan mendekati Mila, yang dari sejak awal begitu manis menuruti semua peraturannya beberapa detik aku di dekat Mila sambil tetap memastikan tak ada yang mengintip.Setelah beberapa detik yang ku butuhkan untuk memberi hadiah pada anak yang termanis di hari ini, aku kembali duduk di lingkaran "Dua'an...."Sambil menunduk aku mengajak mereka semua berdoa di akhir kegiatan dan itu juga sebagai tanda bahwa mereka boleh  membuka mata.Setelah selesai berdoa, maka suasana menjadi sangat menyenangkan semua anak dengan wajah bertanya melihat padaku."Makasih anak anak sudah mengikuti sulap ibu, siapa yaaaa ... yang hari ini dapat hadiah...?"" Aku ibuuu...." Mila dengan semangat mengacungkan tangannya, serentak semua mata tertuju sama Mila yang tersenyum senang, tak ada apapun di tangannya. dan semua bertepuk tangan  meski penasaran terbayang jelas di wajah mereka.
"Alhamdulillah.... karena Mila hari ini jadi anak yang paling manis jadi mendapat hadiah dari ibu, dan kalian semua juga mendapat hadiah karena berdoa dengan baik, hadiahnya berupa pahala dari Alloh yang Maha Penyayang..""Ibu  aku mau dapat hadiahnya..."
"Aku jugaaa..."
"Aku juga.."Semua antusias mengacungkan tangannya."Baiklah besok kita bikin lagi ya....besok giliran kalian yang mendapat hadiah.."
"Janji ya buu..."
"Baiklah ibu janji.. " Kataku sambil mengacungkan jari kelingkingku."Horeee...."
Untuk menjaga antusias mereka agar tidak bosan  memang tidak tiap hari aku mengadakan permainan ini, hanya saat anak anak agak susah di ajak berdoa di akhir kegiatan saja.Memang benar rasio perbandingan 12 atau maksimal 15 orang anak untuk 1 orang guru  itu pun anak yang berusia 5 sampai 6 tahun. sangat terasa saat 41 orang anak kupegang sendirian, sebab guru yang lain sedang mengerjakan banyak pekerjaan menjelang akhir tahun , juga karena tema pelajaran yang harus di berikan sama anak anak sudah tuntas semua Alhamdulillah.Dan ketika mereka sudah pulang satu demi satu,  kulihat Mila di rubungi teman temannya dengan wajah yang sumringah Mila menggeleng gelengkan kepalanya saat teman temannya bertanyaa pa sih hadiahnya sebab dia tahu dan berjajni tidak akan memberi tahu teman temannya tentang hadiahnya itu .Senyumnya cantik sekali, aku tahu meski tidak seberapa hadiah yang aku berikan tapi sangat mereka sukai aku tahu dari wajah dan senyum mereka yang selalu tampak mengembang tanda bahagia  saat mereka menerima hadiah itu dariku.
Memang sangat sederhana, tak harus membeli sesuatu barang, tapi ku pastikan dan aku tahu setiap mereka sangat menyukainya meski tak berbentuk nyata .Sangat murah dan sangat gampang namun nilainya aku pastikan membuat anak anak bahagia melebihi saat mereka di berikan hadiah berbentuk kado,yang kadang bisa saja isinya mungkin  bukan yang di inginkan si anak.
Hadiah yang ku berikan adalah sebuah ciuman kecil di kedua belah pipi Mila, lalu ku peluk  dengan hangat, ku biarkan mereka memelukku beberapa saat, dengan mata tetap terpejam , aku selalu melihat senyum di bibir mereka, dan entah siapapun yang ku pilih untuk mendapatkan hadiah itu, semua dari mereka tersenyum saat ku cium pipinya dan memelukku erat cukup lama .
Mereka suka di cium dan mereka suka di peluk, luar biasa bahagianya mereka.
Saat esok harinya aku selalu mendapat sepasang mata yang ceria mendekatiku
"Ibuuu......"
"Iyaaaa... ada apa sayang...?"
Tak ada jawaban selain senyum dan mata ceria bercahaya lalu kemanjaan khas anak anak, dan aku mengerti
" Sini mau di peluk lagi...??" Aku pun berjongkok ku rentangkan tangan sambil tersenyum.
dan "Ibuuuu .. aku mau.....""Aku juga...."
Tak hanya satu jadinya yang jatuh kepelukanku kadang malah aku yang terjatuh ke belakang bersama sama.
Sweet memory.
In my heart
In my life
Wonderfull

Makasih anak anakku..
Makasih Ya Alloh  ya Robby
Engkaulah sumber kasih sayang itu.


dini hari, banjar 22 mei 2012
by ; camar putih.

Rabu, 02 Mei 2012

Sekilas tentang Ummi kami

Di sekolah Beliau di panggil Ummi, mengikuti putra putrinya yang memanggilnya demikian, Beliau adalah Kepala Sekolah RA tempatku mengajar, sebenarnya aku telah mengenal Beliau jauh sebelum aku mengajar di sini, sebab Ibunda Beliau adalah Guruku sewaktu aku di SD berpuluh tahun silam  sehingga kami sering melihatnya sebagai putrinya Bu Sum .
Ketika aku SMA kemudian adik beliau adalah teman karibku , rumahnya tempat kami berkumpul kalau mengerjakan tugas kelompok atau hanya sekedar kongkow kongkow makan siang sepulang sekolah bikin nasi liwet atau hanya bikin rujakan rame rame, di sinilah aku lebih sering ketemu, hingga akhirnya Beliau menikah dengan salah satu sahabat penanya, ya waktu itu tahun 1987 belum ada FB ataupun HP, semua komunikasi jarak jauh lebih memakai surat menyurat saja.Ada yang lucu dari pernikahan Beliau ini yang sering menjadi bahan gurauan kami, ternyata sahabat penanya yang berasal dari Lombok itu, hanya baru ketemu sekali  dan itupun langsung khitbah ternyata sangat kontras dengan Ummi, membuat kami tersenyum geli.
Ummi dengan postur tubuh yang semampai, semeter ga sampai bersanding dengan suaminya yang tinggi hampir 175 lebih nampak menjulang bersanding di sisi Ummi, yang satu pendek bulat yang satunya kurus ramping, maka kami memanggilnya pasangan jempol dan telunjuk.Ummi akan tersenyum saja jika kami meledeknya.
Di kemudian hari suaminya Ummi inilah yang menjadi guru ngaji dan pembingbing kami lebih dalam mempelajari Islam.
Beberapa waktu berlalu aku pun kemudian menikah dan mengikuti suamiku ke tempat kerjanya, ada beberapa tahun yang karena kesibukan kami masing masing sempat kehilangan kontak, tetapi Alloh selalu mengumpulkan kembali apa yang terserak, ada beberapa moment di mana aku  kembali ke rumah Ummi, anakku yang kedua di sunat juga di tempat Ummi dan kini saat si kecilku menginjak usia sekolah Alloh mengirimku kembali ke rumah Ummi.
Setiap hari bersama, berinteraksi dengan intens, membuatku lebih punya banyak kesempatan belajar pada Beliau.Ada beberapa moment yang begitu menyentuhku dan ku jadikan itu pembelajaran yang sangat berharga dan luar biasa yang jarang ku temui lagi di era perempuan begitu maju pesat dalam kesetaraan haknya.
Aku ingat sewaktu aku kecil sekitar tahun 70 an, adalah hal yang lumrah dan merupakan kewajiban , seorang Ibu, seorang Istri berada di rumahnya, pada saat sang suami pergi ke kantor ataupun ke tempat kerjanya, fenomena istri pekerja belum begitu booming seperti saat ini.
Jika suami berangkat kerja dan anak anak pergi sekolah, sudah di pastikan  Ibu ada di rumah, sehingga saat mereka pulang kembali   pasti menemui Ibu atau Istrinya di rumah.Sungguh menetramkan setelah seharian berada di luar rumah ada tempat nyaman untuk kembali beserta sambutan yang tulus dan hangat.
Berbeda jauh dengan sekarang , kadang saat berangkat di pagi hari menuju sekolah, aku melihat begitu banyak perempuan cantik cantik berpakaian rapi berseragam kantoran keluar meninggalkan rumahnya, begitu banyak rumah rumah yang jauh lebih bagus dan mewah di banding rumah jaman dulu tapi kosong tak berpenghuni tak ada penjaganya, kalau pun ada hanyalah pembantu yang tak merasa berwenang atas rumahnya itu. Tak jarang pula saat suami pulang kerja, atau pun anak anak pulang sekolah tak mereka temui Ibu yang hangat menyambutnya di rumah.Rumah mewah menjadi sunyi dan sepi.
Mau bagai mana lagi itu adalah tuntutan jaman, begitu kilah mereka.
Dan di sinilah luar biasanya Ummi, meski memang merupakan keberuntungan bagi Beliau, bahwa sekolah tempat Beliau bekerja menyatu dengan rumahnya sehingga akses ke rumah hanya beberapa langkah saja.
Di saat saat jam pelajaran berlangsung ataupun di saat Beliau menerima tamu di kantor, terkadang jika kebetulan Ustad ada di rumah, tiba tiba Ustad dengan kemanjaan seorang suami menghampiri Ummi di sekolah dengan menepuk nepuk perutnya, dan Ummi apapun yang sedang di kerjakannya, sepenting apapun tamu yang harus di hadapi  segera Beliau tinggalkan semua nya di tunda dan di delegasikan pada kami para guru, lalu Beliau kembali ke rumah untuk melayani Ustad meski itu hanya untuk menyendokkan nasi karena nasi dan sayur, lauk pauk sudah tersedia, lalu Beliau menemani Ustad makan sampai selesai.
Atau di lain waktu, aku masih ingat hari itu Ummi akan menghadiri reunian teman SMA nya, sudah deal dan di tunggu di rumah makan yang terkenal di kota kami, Ummi sudah siap di antar putra sulungnya, selain untuk menghadiri reunian yang pasti menyenangkan bertemu teman lama, Ummi pun sudah sepakat untuk mengantar proposal pembangunan yayasan dengan teman lamanya yang akan ikut menjadi donatur. Tetapi aku terkaget kaget sewaktu Beliau malah mampir ke rumahku dan meminta aku yang mengantarkan proposal itu,ku lirik baju panjang Ummi yang sepertinya baru, mewakili hati Beliau yang pastinya senang berbalut kerinduan pada teman teman karibnya .
"Ko malah belok ke sini Ummi, kan mau menghadiri reuni ?" Tanyaku heran 
"Ummi tidak bisa datang tolong antarkan proposal ini ya "
"Kenapa Mi ?" Aku penasaran
"Tadinya mau datang, kebetulan Ustad lagi ada rapat, ternyata rapatnya lebih cepat selesai dari dugaan, jadi sekarang Ustad sudah di rumah dan belum makan "
Aku bengong.
Aku kagum, aku berani bertaruh tak banyak Istri yang sekualitas Ummi di jaman sekarang ini.
Di waktu yang lain kami kedatangan tamu yang akan study banding di sekolah kami, maka kami pun bersiap dengan menyediakan makan siang untuk para tamu kami ini, singkat cerita acara silaturahim itu berjalan lancar sampai di acara makan siang tepat jam1.00 , perut kami sudah sangat kelaparan, kami bersama tamu makan dengan lahap di selingi diskusi kecil yang seru, ku lihat Ummi pun makan dengan gembira tak kalah lahap.Tiba tiba tanpa sempat aku tahu kenapa Ummi meninggalkan jamuan makan itu, ku lihat di piringnya masih tertinggal makanannnya lebih dari separuh berati Ummi makan belum banyak, lama sampai piring kami sudah bersih Ummi belum juga kembali.
Sambil mengangkat piring sebagian, aku bertanya pada putri bungsu Ummi.
"Ummi kemana khotun ?" Aku berbisik.
"Nemenin Abi makan." jawab gadis 7 tahun itu enteng
Aku terharu, sebab aku yakin Ummi tak akan makan selahap sebelumnya  saat nanti harus menghabiskan makanan di piringnya yang tersisa tadi.

Beliau adalah sedikit perempuan yang ada di masa sekarang ini, di mana pengabdian kepada suami menjadi skala prioritas di atas apapun  atau siapapun itu. meski termasuk wanita pekerja yang tak kalah menyita waktu dan pikiran kemudian tak lantas menjadikan egonya  yang harus di mengerti ataupun menjadi yang harus di maklumi.
Yang sering ku dengar, ku lihat dan ku simak,  banyak perempuan berkarir kemudian mengeluh saat harus melayani Suami, toh aku pun bekerja, aku pun cape, aku pun mencari uang, saling pengertianlah, bukankah sendiri pun bisa.
Iya benar, bahwa standar hidup kini semakin tinggi tak cukup lagi hanya sandang, pangan, dan papan yang harus terpenuhi, banyak yang terselip di antara ketiganya yang jumlahnya kadang melebihi yang primer.
Akan tetapi siapakah yang membuat standar itu ?
Jika seorang perempuan berpendidikan tinggi mutlakkah harus menjadi wanita karier ?
Seakan akan menjadi mubajir tatkala seorang anak perempuan yang bertitel tinggi hanya menjadi ibu rumah tangga biasa mengurus anak dan suami serta menjadi pengurus rumah tangga. sebuah pekerjaan yang tanpa prestise.
Menjadi sebuah kebanggan jika wanita menjadi seorang pekerja, yang kadang bukan lagi hanya nafkah yang menjadi tolak ukur , akan tetapi sudah bergeser menjadi fenomena aktualisasi diri agar di hargai, di hormati, bahkan di dalam rumah tangga sekali pun menjadi kabur batasan antara pemimpin rumah tangga dengan yang di pimpin, sekarang siapa yang lebih banyak menghasilkan uang dialah pemegang kendali, dialah pemutus arah biduk rumah tangga.

Kepada Ummi aku belajar, bahwa mempunyai pekerjaan sampingan di luar rumah sepenting apapun jabatan kita, rumah, suami dan anak adalah tetap priorits tertinggi, tak ada alasan untuk mengeluh, tak ada alasan untuk menjadikan pekerjaan kita tameng dari kemalasan ego kita.
Sesepele apapu n itu di mata umum, merupakan hal yang terpenting jika itu sudah mengenai suami dan anak  anak
Sebab kewajiban yang utama kita adalah di rumah, jabatan kita sebagai istri dan ibu, itu yang akan di mintai pertanggung jawabannya kelak.
Sebuah jabatan dan kedudukan yang tidak akan bisa diberikan perusahaan manapun, meski dengan gajih milyaran dollaran sekali pun.
Sebuah jabatan dan kedudukan yang tak akan di berikan meski dengan ijazah dari universitas paling bergengsi sekalipun
Sebuah jabatan dan kedudukan yang akan mengantarkan kita ke sorga dengan mulus dan cepat.
Terima kasih Ummi 
Semoga tetap sehat, apapun mimpi yang belum usai, semoga di mudahkan agar segera terwujud entah dari mana datangnya bantuan itu, Alloh Maha  Memberi, tak ada satu pun makhluk yang dapat menghadangnya, jika Alloh berkehendak maka jadilah.
Tetap semangat Ummi.
Jangan sedih saat terlukai.
Alloh Maha Melihat, semua payah dan lelahmu
Semoga Alloh membalasnya dengan segenap kebaikkan yang terbentang sehamparan bumi dan selebaran naungan langit.
Teruslah bermimpi dengan doa Ummi.
Sebab dalam ingin dan harapmu, RidhoNYA berada.
Amin
Amin .





 banjar, dini hari, 01.30.
2 mei 2012
 camar putih

Senin, 02 April 2012

Nasehat dari Ma Tua Tetanggaku


Sudah dua hari badanku terasa berat dan pegal pegal, teringat anakku yang sulung yang suka memijatku, tapi sekarang tidak bisa ku mintai tolong dengan segera, Yogya - Banjar  bukan jarak yang dekat sekedar hanya untuk memijatku.
Akhirnya aku meminta tolong Ma tukang pijat tetanggaku, Ba'da Maghrib  Dia sudah mengetuk pintu rumahku.
Seperti biasa sambil memijat Dia bercerita, dan selalu ceritanya suram penuh kesedihan.
Aku sambil menikmati pijitannya setia mendengarkan curhat si Ma malang ini.
"Kemarin Ma teh kabur Neng, mau kesini tapi malu.."
"Lho .. Ma kabur ..? kenapa Ma..?"
"Aahh hidup Ma mah gini terus Neng, sakit hati  sama Anak Anak "
Tangan kurus si Ma meluncur di betisku, Aku meringis meski kurus  namun tenaganya sanggup membuatku menahan nafas.
"Ya Alloh Ma.. coba kaburnya ke sini , seneng Aku ada yang mijitin, kenapa lagi dengan Anak Ma..?"
"Sama Mantu neng.." Si Ma terisak
Aku  tidak enak hati jadinya, sudah sedih mijitin lagi, tapi gimana dia ke sini buat mijit, dan untuk mengurangi sedihnya ku temani Si Ma curhat.
"Duh .. Mantu ko berani begitu Ma, apapun alasannya tetap tidak boleh kurang ajar sama Mertua"
Aku membelanya total.
"Ceritanya begini Neng,Ma kemarin panen, ya ngga banyak cuma sepetak Neng warisan orang tua Ma, satu satunya yang Ma pertahankan.." terdengar isak tertahan dan pijitan si Ma terasa tambah dalam aku meringis tapi ga berani protes.
"Mantu Ma minta uang hasil panen, tapi sama  Ma ga di kasih, dan Mantu Ma marah luar biasa sambil menendang pintu berkata, mau di bawa mati tuh uang..!. gitu katanya neng.."
Dadaku bergolak panas, gemes.
"Hati Ma ngilu sampai ga bisa makan, ga bisa tidur neng,sakit hati... dada Ma nyeri Neng.."
Tangan Si Ma rasanya sudah lewat 10 menit di punggungku ga pindah pindah di satu sisi saja  kembali aku ga berani protes, dadaku ikut sesak mendengar isak pilu wanita tua tetanggaku ini rasanya Si Ma bertambah tua sepuluh tahun duh.
"Padahal belum genap setahun panen yang kemarin uangnya di ambil Dia semua Neng, buat uang muka motor, yang nyicil Ma lagi, Dia janji mau bayar cicilannya tapi ya janji tinggal janji yang nagih datangnya ke rumah ya terpaksa Ma bayar."
"Anak Ma gimana..? apa membela Ma ..? "
" Ah... mana berani Neng, Mantu Ma kan galak, biasa di pukulin Anak Ma.."
Akhirnya tangan Si Ma berpindah ke sisi kanan punggungku, Aku lega.
"Motor itu pun akhirnya lepas juga karena di gadaikan sama Mantu Ma, sama Ma pernah di tebus sebenarnya Ma sampai menjual kalung hasil bertahun tahun panen tadinya simpanan kalau kalau Ma mati kalung itu di jual buat ngurus jenazahnya Ma karena Ma tahu Anak Anak Ma ga punya uang  , takut jenazah Ma ga ada yang nguburin."
"Lepas gimana Ma...?"
" Di gadaikan lagi sama mantu Ma, dan Ma ga bisa nebus lagi Neng."
Duh...
Aku benar benar gemes.
"Lalu kenapa Ma yang kabur ..? kan itu rumah Ma..?"
"Ma ga kuat lihat mukanya Neng, Ma sampai mengigil kalau berpas pasan muka di rumah.jadi Ma mengalah pergi ke rumah saudara di Tanjung sukur "
"Dia suka bantu ngurusin sawah Ma..?" Aku penasaran.
"Duh ...Neng jangankan mau bantu, Ma yang bawa gabah sendiri di gendong sekarung sekarung dari sawah ke rumah dia malah mandiin ayam saja,,giliran sudah jadi uang dia tahu,"
"Kurang ajar banget Mantu Ma ..."
Aku ga tahan untuk memaki, kebayang jarak sawah ke rumah Si Ma lebih dari 1 KM, dan jalan kaki, Masya Alloh.
"Mantu Ma cuma dua Neng, semua ga ada yang bisa di andalkan malah Anak Anak Ma juga lebih suka membela berpihak sama Suami Suami mereka tak peduli sama Ma, begitu juga Cucu Ma, tapi tiap hari tak pernah berhenti ada saja yang mereka minta"
Aku menghela nafas berat, menahan hati.
"Dan kalau Ma  habis ngurut mereka selalu tahu, maklum satu rumah, paginya ada saja alasan mereka perlu uang dan Ma ga bisa menolak" Si Ma melanjutkan dengan suara yang tak kalah berat.
Aku berbalik bagian tanganku yang di urut Si Ma, dan aku bisa leluasa melihat wajah tua di depanku ini, wajah yang hampir ga berdaging apalagi berlemak, hanya tulang berbalut kulit, serta nyawa yang membuatnya bergerak dan hidup, hatiku teriris.
"Ma .. sudah makan..?" iseng aku bertanya mengalihkan topik pembicaraan yang berat ini.
Sambil sedikit tersenyum, Aku sangsi itu bukan senyum tapi seringai yang sarat luka, mungkin Si Ma lupa caranya tersenyum.Si Ma menjawab pertanyaanku.
"Sudah Neng tadi siang di sawah, Ma makan cuma sekali ga bisa makan lagi.."
"Tadi di Sekolah botram Saya yang masak, Ma bawa ke rumah ya.." Aku membujuk.
"Tidak usah Neng..."
Si Ma berdiri sambil membereskan minyak bekas mengurutku selesai sudah tugasnya.
"Ma.. minum Vitamin ya.. ini ada multi Vitamin, biar Ma sehat "
Aku kebingungan bagai mana harus ikut meringankan beban hidup Si Ma, seperti benang kusut menggumpal di tubuh tipis nan ringkih di depanku ini. Aku bahkan risi memandang sepasang mata yang cekung menjorok ke dalam itu.
Aku memang jarang bertandang ke rumah tetangga, apalagi rumah Si Ma beda RT dan beda RW denganku.
Ku lirik Jam, lewat 2 jam dari Ba'da Maghrib, Si Ma bergegas pulang,setelah ku selipkan amplop seperti biasa aku mengantar Si Ma sampai halaman, seperti biasa juga Aku meminta maaf telah menguras tenaganya, tapi kali ini Aku benar benar meminta maaf, Aku merasa telah berbuat dzolim padanya, entahlah meski tidak sengaja Aku merasa telah berbuat keterlaluan.
Sampai larut malam wajah tua dan tubuh kurus Si Ma masih terus membayangiku, menuntutku untuk banyak bersyukur atas yang ku terima apapun itu dalam hidupku.
Pagi hari saat Aku membersihkan teras ku lihat Si Ma berjalan ke arahku,di tangannya ada keresek kecil
"Neng.. ini ada nasi timbel, padi baru, hasil panen..." katanya sambil sedikit berjongkok di teras.
Aku segera meraihnya kembali berdiri, dengan terkaget kaget.
"Duh Ma....jangan merepotkan"
Aku terbata bata.
"Tidak ada lauk pauknya Neng.."
"Ya ampun Ma..."
Si Ma dengan rasa tulusnya tak mampu ku tolak.
Aku merasa kena Skak mati.
Kalah telak.
Sampai Si Ma menghilang di belokan mulut gang, Aku masih mematung di teras, nasi timbel terasa hangat di tanganku harum daun pisang tercium pertanda baru di buat.wangi.
Aku belajar sangat berat, rasanya tak mampu ku kejar,
Mampu memberi di saat hidup sangat tak berpihak
Mampu tetap bertahan dengan rasa terabaikan yang teramat sangat
Mampu memberi di saat tak pernah menerima
Alloh Maha Adil... Aku percaya itu, tenanglah Ma
Alloh Maha mencatat, Maha melipat gandakan.
Ku susut bercak di pelupuk mataku.
Ampuni aku ..Ya Robby.
By:Camarputih, 2 April 2012, pukul 19.28

Kamis, 29 Maret 2012

Permen Papa



Bangun tidur pagi Papaku agak rewel,merengek rengek ga jelas, ku tanya sambil ku cium pipinya hmmm.. bau acemmm.
"Ko bangun tidur nangis sayang, mimpi buruk ya..?"
Papa hanya merengek seperti ada yang ingin dia katakan, tapi ga yakin
"Papa mau apa..?bilang sama mamah ga pake nangis nanti ga jelas ngomongnya.."
Ku dudukan dia di tepi tempat tidur dan Aku berjongkok di depannya.
"Boleh ngga Papa minta permen ..?"
hmmmm.. pantes dia ragu sebab Dia tahu aku ga begitu suka kalau Dia jajan permen, sebab giginya selalu bermasalah kalau kebanyakkan makan yang manis.
"Kenapa Papa mau permen, kan gigi Papa suka sakit batuknya juga masih ada..?" ku ingatkan Dia sambil duduk di sampingnya.
"Papa mau permen temen temen Papa suka beli, Papa juga mau..boleh ya mah..?"
Mata bulatnya memohon
"Baiklah karena Papa mintanya ga pake nangis Papa boleh nanti beli permen di sekolah, tapi jangan malas sikat giginya ya..?"
"Taa..pii... permennya mau 2 mah ..? "
Aku mengernyitkan dahi,ku lirik jam semakin beranjak siang dan sambil ku tuntun ke kamar madi aku mengangguk ringan, dia pun tertawa senang.
Sesampainya di sekolah seperti janjiku ku belilkan Papa permen 2 buah seperti permohonannya, dengan satu kesepakatan di makan sewaktu istirahat.dan dia patuh.
Dan kegiata belajar mengajar pun mengalir padat hingga waktu istirahat tiba, Aku sibuk membubuhkan bintang di setiap buku Anak Anakku.
9.30 Selesai sudah, waktunya Shalat Dhuha.
Anak anak semua ku giring ke Mesjid
"Ayoo makanannya habisin kita Shalat Dhuha nak .."
Anak Anak berlarian ke tempat wudhu.
"Ibuuu.. aku habisin dulu permennya ini di kasih papa bu..."
Nadya menjejeri langkahku menuju tempat wudhu.
"Oh ya......?" ku lirik Papa yang menguntit dibelakang, menatapku dengan senyum penuh arti.
Ku gandeng keduanya Papa di kananku dan Nadya di kiriku.
"Hebat... Sahabat yang baik ya, saling memberi dan menyayangi, Ibu senang "
Papaku memang juara bagiku.
Selalu ada moment yang membuatku belajar memaknai
Selalu saja kepolosannya membuatku takjub.
Itulah cinta yang tanpa tendensi
Cinta yang tanpa syarat
Cinta yang tak berhitung
Hanya ada satu keinginan memberi.titik.
Makasih banyak sayang..
Kau selalu luar biasa..


by Camar putih.
Selasa pagi, 27 maret 2012

Jumat, 23 Maret 2012

Muhammad Ziyadhatul Khoiry, Permataku



Dua telaga bening ini
Selalu mampu meruntuhkan hatiku membuatku tak berdaya saat ia meminta
Dua telaga bening ini
Selalu mampu  mengajariku bahwa duka tak selamanya air mata
Dua telaga bening ini
Selalu mampu membuatku berdada lapang seluas samudra


Dalam lepas gelak tawa riangnya
Ku dapatkan indahnya hidup
Dalam rengekan manjanya
Kudapatkan betapa berartinya diriku melebihi dunia beserta isinya baginya
Dalam cerewet dan sejuta tanyanya
Kudapatkan pelajaran yang tak pernah berwisuda


.Ya Robbi tak putus Syukurku,
Terimakasih telah hidupkan Ia untukku,
 Di sebuah malam menjelang Iedul Fitri
 Hadir dengan senyum Malaikat di pangkuanku







by ;Camar putih, 24 April 2011

Merpatiku



Terbanglah, hai Merpati rinduku

Lewati langit sebrangi lautan gemawan
Sampaikan padanya ada sebongkah hati lara menanti 

Menguntai harap di sela jemari, menghitung waktu yang tak mau kompromi 
Tak jua asa berpihak meski musim ribuan kali berganti 
Terbanglah
Sebab aku akan tetap berdiri di sini 
Tak peduli hingga ujung usia 

Tak peduli pedih letih melumuriKembalilah bawa ia untukku 
Di awal pagi saat matahari hadir menemani
Ataukah saat malam berganti menjagai
Tak lagi penting di antara keduanya
Terbanglah terus demiku
Sebab padamu daya hidupku tersimpul
Tawa tangisku terpusat

Tahukah kau hai Merpati rinduku
Inginku sederhana 
Ku ingin ada saat dia pertama membuka mata 
Dengan senyumku yang mewakili
Kujaminkan untuknya semua akan  baik baik saja
Karena cintaku menjadi penjaganya.











by ;camar putih
     banjar mei 2011.

Kamis, 22 Maret 2012

Mimpi yang hilang




Jadwal pengajian bulanan Orang tua murid, bulan ini giliran Ibunya Dadan yang ketempatan rumahnya, karena sudah menjadi kesepakatan pengajian rutin bulanan di adakan di rumah Orang Tua murid siapa saja yang bersedia, tidak di tunjuk.
Selepas jam pelajaran, sedianya Anak Anak yang Orang Tuanya tidak hadir mengikuti pengajian di pulangkan, namun sesaat ada telepon dari BFC, bahwa pihak BFC sudah menyediakan snack utnuk Anak Anak.
Subhanalloh...
Akhirnya Anak Anak kami bawa serta , bukan main gembiranya mereka.
Ya hari ini, agak istimewa sebab pengisi materi pengajian akan hadir dari pihak Banjar Family Center, kami akan kedatangan Tamu.
 Alhamdulillah.
Akhirnya Tamu yang Kami tunggu pun tiba.
Dengan sedikit kerepotan karena barang yang di bawa cukup banyak ternyata, Kami sambut Ibu Ketua BFC, Ibu Etty atau sering di panggil Ummi Urin dan Ibu Yuni dengan penuh antusias.

Dan Segera pengajian pun di gelar.
Subhanalloh .. materi yang di sampaikan begitu bermanfaat.
Tema yang Kami minta adalah tentang Pola Asuh Yang Terbaik buat Anak anak, dan Ummi Urin membahasnya dengan lengkap dan tepat, meski waktu yang tersedia tidak cukup banyak, namun Ilmu yang Kami dapat dari Beliau sungguh padat, menyenangkan hingga tak sempat Kami merasa bosan , di selingi candaan Beliau yang ringan namun penuh teladan membuat Kami betah mendengarkannya.
Ada yang menarik tentang Beliau, sesuatu yang membuat Beliau jadi menarik dan sangat inspiratip, ini bukan tentang isi materi Beliau , lain kali akan Ku bahas, Aku lebih ingin bercerita tentang sosok Beliau Ummi Urin, Ibu ketua BFC.

Beliau dengan sosok nya yang tinggi dan tidak cukup langsing, hehehe... iya di situlah kelebihan Beliau, ketika Kami bertemu Beliau Kami lupa bahkan tidak memperhatikan bahwa Beliau besar, raut Wajahnya yang putih bersih sarat senyum bahkan di saat Beliau belum sempat tersenyum pun Kami sudah merasakan dan melihatnya tersenyum, Luar biasa.
Itulah yang membuat Kami dengan segera merasakan kebaikkan dan keramahannya, Beliau menjadi cantik dan menarik karena senyum ramahnya dan kecerdasan hatinya.
Ada sesuatu yang sangat berkesan dari Beliau, begitu menyentuh bagiku, menyentuh mimpiku dulu yang kini hilang tak bisa teraih.

Ummi Urin bercerita, bahwa ketika sang Suami tercinta mendapatkan amplop gaji bulanan, Beliau itu tidak langsung pulang ke rumah, namun singgah di rumah Ibunya, Ibu Mertua Ummi Urin dan mempersembahkan Gajinya pada Ibundanya, untuk di ambil berapapun yang Ibundanya kehendaki, lalu sisanya baru untuk Anak Istrinya di rumah , Subhanalloh bergetar hatiku hingga membuatku menunduk saat mendengar cerita Ummi Urin dan Ibunda yang luar biasa itu pun selalu mengambil tidak sampai sepersepuluh dari amplop yang di persembahkan Ananda nya itu. hanya sedikit bahkan sangat sedkit . begitu kata Ummi Urin Sang Menantu yang ikhlas ini.
Tidak itu saja bahkan ketika Sang Suami pergi keluar Kota, buah tangan oleh oleh yang di bawa tidak langsung ke rumahnya namun di bawanya ke rumah Ibundanya , untuk mempersilahkan Ibundanya memilih oleh oleh mana yang paling di sukainya lalu sisanya baru lah di bawa untuk buah tangan Anak Istri di rumah.dan lagi lagi Sang Ibunda yang beruntung itu selalu mengambil sedikit bahkan sangat sedikit, lebih teringat pada para Cucu dan Menantunya yang baik hati .

Allohu Akbar
Ternyata masih ada teladan nyata di sekeliling kita.
Betapa Indah.
Sungguh, Berbahagianya Sang Ibunda yang pasti sudah lanjut usia, mendapat penghormatan yang berbalur cinta kasih sedemikian tulus dari Anak lelaki yang di kasihinya juga dari Menantu yang ikhlas dan para Cucu yang pasti sangat mencintai eyangnya.
Sudah pasti Beliau tak memerlukan lagi Dunia dengan segala isinya sekalipun itu di hantar oleh Anak lelakinya di hadapannya, sebab relung hati Seorang Bunda sudah sangat penuh sesak dengan keharuan atas persembahan Cinta Anak menantunya.

Hormatku untuk Ibunda, yang telah berhasil mendidik Anak lelakinya menjadi Lelaki yang sejati.
Meski jelas pasti begitu besar Cinta untuk Anak Istri tak lantas menjadikannya lelaki pengecut yang takut istrinya marah karena merasa di di nomor duakan.
Selamat Bunda.
Sebab telah membuat Anak lelakinya berhasil mendidik Anak Istrinya untuk menjadi ikhlas, penuh kasih yang tulus.
Dan Selamat buat sang Suami terkasih, telah menjadi pemimpin yang sejati. tidak gentar dalam melaksanakan kewajiban, menempatkan sesuatu sesuai prioritas, itulah yang di contohkan baginda Rosullulloh Muhammad SAW.

Dan terakhir Selamat Buat seorang Istri yang cantik dan sholehah.
Karenanya. 
Seorang Bunda di usia lanjutnya merasakan bahagia
Sebabnya
Seorang Anak lelaki mampu menjadi Anak Sholeh yang berbakti
Ibu...... Aku memanggil Beliau begitu
Ummi Urin...Begitu orang di sekelilingnya memanggil Beliau
Kau adalah wanita bahagia yang telah menginspirasi lingkungan di sekelilingmu.
Kebahagiaanmu dalam keluarga menular membias ke sekelilingmu lebih luas dari yang kau kira.

Teruslah berkarya
Kami membutuhkanmu untuk membimbing Kami agar mampu menjadi Istri yang Sholehah sepertimu Bahagia juga sepertimu.
Terima kasih banyak
Atas hadirmu di tengah tengah kami.
Tetaplah Sehat
Tetaplah tersenyum

Hari yang Indah..penuh berkah
oh yaa... mimpiku hilang sebab dulu aku bermimpi untuk menjadi istri seperti itu
Tapi tak lama aku menikmatinya, sebab  Mertuaku keduanya sudah berpulang demikian juga Ibundaku.
Tinggal doa yang bisa ku persembahkan untuk Beliau.








by ; camar putih
      Pataruman, saat hujan sore turun sangat deras

Rabu, 21 Maret 2012

Ketika Nur menangis







Pagiku agak terburu buru, semalam sampai larut menyelesaikan administrasi harian Sekolah, kunjungan penilaian untuk Akreditasi Sekolah cukup menyita waktu dan energiku juga untuk Guru Guru yang lain.


Sampai di Sekolah masih ada beberapa laporan yang harus segera di bereskan, Anak anak mengerubutiku meminta di temani membaca Iqro kegiatan rutin tiap pagi sebelum jam pelajaran di mulai. Dan Aku kewalahan juga.

"Ayo sayang .. baca Iqronya sama Bu Itit ya..."
Beberapa kemudian kembali ke kelas, Dika masih mengintip di pintu enggan beranjak, dahinya berkerut
."Ibu selesaikan laporan dulu ya, Dika baca Iqronya sama Bu Itit ya.."
Aku membujuk dengan senyum, dan Dika pun beringsut masuk kelas di wajahnya tak ada senyum.
Belum juga ku mulai laporan harian yang harus segera ku selesaikan itu , Tiba tiba ada tamu, sepertinya Orang Tua murid namun Aku lupa Ibunya siapa ya.?pikirku sambil berdiri menyambutnya.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam .. mari masuk Ibu.."
Aku mempersilahkan Beliau masuk dan menemani Beliau duduk di ruang tamu sebab ga ada yang lain selain aku di ruang kantor.
 "Saya Ibunya Nur Bu..."
 Beliau memperkenalkan diri sebelum Aku bertanya. Aku jadi teringat Beliau bulan lalu Kami menengok Nur ke rumahnya saat Nur lebih dari 4 hari tidak masuk Sekolah, agak pangling Beliau berkerudung sekarang .

"Oh iya Ibu... kenapa ..? ada yang bisa saya bantu..? atau mau ketemu Ibu Kepala ..?
Segera Ku tanya sebab ada mendung di wajahnya, sepertinya ada yang tak beres
."Tidak apa apa sama Ibu juga.."
"Iya bu, Ibu kepala sedang repot.." Aku sedikit menjelaskan mohon di maklumi.
Ku robah posisi dudukku menghadapnya siap mendengar.
"Ini Bu.. Nur tak mau sekolah.."
Beliau memulai dengan agak tersendat,
 "Oh kenapa katanya Bu..? apa Nur sakit..? "
Selintas wajah mungil Nur terbayang di benakku
" Tidak bu.. hanya Nur tidak mau sekolah, karena di ejek Imel terus menerus begitu katanya"
 "Oh... Imel..?" Aku sedikit terkejut teman sebangku Nur yang ku tahu sering main bersamanya
."Iya Bu...Saya sudah membujuknya, tapi Nur nya malah menangis, tetap tidak mau berangkat ke Sekolah, padahal mau di temani di Sekolah asal mau berangkat "
"Imel mengejek bagaimana Bu.?."
Ada perasaan bersalah sebab Aku luput dari hal ini.
 "Nur di bilang jelek dan hitam tidak seperti Imel putih, maklum Anak Anak Bu, jadi Nurnya nangis , karena di ejeknya berulang ulang terus Bu.. "
Nada Suara Ibunya Nur agak meninggi, sebagai Ibunya jelas merasa ikut sakit hati dan sedih Anaknya di ejek begitu rupa.Aku memahaminya.

Ku sentuh tangan Ibunya Nur dan ku genggam dengan lembut.
"Ibu katakan apa sama Nur..?"
"Saya bilang saya akan melaporkan Imel sama Ibu Guru di Sekolah agar di tegur jangan mengejek orang lain seperti itu, kalau tetap tidak berubah Saya akan mendatangi Ibunya agar Anaknya di bilangin, Saya tidak tega Anak saya di begitukan Bu.."
Tumpah sudah kemarahan tertahan Ibunya Nur.
"Iya Ibu saya mengerti.." 

Aku tersenyum sabar mengimbangi amarah Tamuku.
Terbayang lagi dua wajah mungil Anak anakku, satu putih penuh senyum dengan gigi ompong depannya milik Imel, satu lagi memang agak hitam dengan gigi putih dan rapi milik Nur.
Dua duanya tetap Anak Anakku tak ada satu dari keduanya yang lebih ku bela.hanya Ibu di depanku ini membutuhkan pegangan yang harus ku beri untuk menentramkan kegelisahannya.



Ke geser dudukku lebih menghadap ke Ibunya Nur
"Ibu...Nur memang tidak putih bukan...?" Aku tersenyum lembut.
Tapi tidak Ibunya Nur, nampak jelas keterkejutannya mendengar jawabanku, mungkin bukan kata kata itu yang Beliau harapkan, Aku paham itu
" iya sih Bu..anak saya tidak putih, katakan saja hitam tapi tidak untuk di ejek ejek Bu.."
Nada tidak suka tertangkap jelas, dan aku benar benar tersenyum lebar. 
"Ibu... tahu tidak ..? kemarahan Ibu ini yang menyebabkan Nur tidak mau masuk Sekolah meski sudah Ibu bujuk"
"Maksud Ibu..?."
Masih dengan senyum Aku mencoba menurunkan kemarahan Tamuku ini
"Ibu...Nur memang agak hitam, jadi sesungguhnya Imel tidak salah dengan kata katanya , Maaf bukan pula berarti Imel benar dengan sikapnya, nanti akan saya coba mengajak Imel bicara untuk memperbaikki sikapnya karena telah membuat temannya sedih."
Ku lihat Ibunya Nur menunduk , Aku tahu Beliau belum paham ke mana arahku bicara.
"Begini Bu...memang Nur tidak putih dan agak hitam, dan itu benar adanya, mari kita sampaikan kebenaran itu pada Nur, itu kenyataan, jadi jangan mencoba membelokkan atau memanipulasi, dengan memarahi pihak lain katakan saja Imel lalu membenarkan kesedihan Nur itu malah membantu Nur tidak bisa mengatasi kenyataan yang sesungguhnya.."Ibunya Nur terdiam "Sederhana nya begini bu...jika Nur menangis di ejek temannya karena kulitnya yang hitam, katakan sama Nur, agar dengan berani membalas ejekan temannya dengan kata kata misalnya begini, memang iya aku hitam .. mau apa ..?? tapi aku juara 1 gerak dan lagu ..1"
Nur memang masuk di grup yang mengikuti lomba Gerak dan Lagu bahkan menjadi Juara 1.
 Ibunya Nur menatapku seperti terkejut, ada harapan yang bersinar di mata Beliau.
 Dan Aku melanjutkan.
"Atau begini... memang iya aku hitam tapi gigiku rapi ga ompong..atau lain kali begini .. iya memang aku hitam tapi Aku sudah Iqro 3 misalnya.."

Aku menarik nafas, mempersilahkan tamuku memahami apa yang ku sampaikan perlahan lahan, ku lihat Beliau berusaha mencerna kata kataku dan Aku mendapat peluang.


"Ibu.. mari kita biasakan pada Anak Anak kita agar tidak minder dengan kelemahan jika itu merupakan kelemahan, tak apa jika itu ada , kita terima dengan sikap ikhlas, tetapi mari kita juga fokuskan Anak Anak kita pada kelebihan kelebihan mereka atau prestasi prestasi mereka, Ibu pasti tahu dan apa saja kelebihan itu, meskipun itu hal hal yang kecil mari kita hargai dan kita besarkan, agar anak anak juga menyadari bahwa dia cukup hebat untuk di banggakan, Kita , Orang tua adalah pendukung utama Dia..."
Ibunya Nur tampak berkaca kaca.
"Saya tidak terpikir begitu bu... jujur Saya malah marah pada Imel "
"Dengan selalu berpikir pada kelebihan dan prestasi Anak kita, misalnya Nur rajin Shalat, Rajin mengaji, mandiri dalam mengurus dirinya misalnya sudah mampu mandi dan makan sendiri, itu sudah merupakan prestasi juga Bu, mari kita beri dia semangat dan mengabaikan kelemahannya"
"Saya baru sadar Bu.. Maaf tadi terus terang datang ke sini pun Saya agak emosi "
Aku tersenyum.
"Tak apa Ibu.. Kita saling mengingatkan , Kami juga dari Sekolah mohon maaf karena lalai memperhatikan Anak Anak, sampai kejadian ini luput dari perhatian Kami."
"Anak sekarang begitu ya Bu cara mengatasinya, Saya jadi merasa bodoh sekali .." 
Ibunya Nur tersenyum dengan perasaan yang membuatnya geleng geleng kepala
"Tidak juga Ibu.. itu hanya sedikit saran saja .. sebab jika Nur berani mengatakan prestasi prestasi yang dia raih, Orang lain atau Teman Temannya yang lain tidak bisa membantahnya, dan bagi Anak anak akan menjadi ajang meraih prestasi yang positip menjadi daya saing yang bagus Bu...Insya Alloh "
 Kembali ku sentuh tangan  Ibunya Nur yang kini sudah nampak lega.
Dan Beliau tersenyum kecil menyusut bercak di matanya.
"Ibuuuu.... hayooo Dika mau baca sama Ibu "
 Dika mengintip sambil merengek di balik pintu
." Iya sayang boleh, Dika baca sama Ibu tapi sebenatar ya Ibu ada Tamu "
 Ku ulurkan tangan meraih Dika , dengan segera dia berlari mendekatiku
."Oh iya bu , maaf Saya mengganggu, Saya sudah selesai , makasih banyak Bu nasehatnya saya benar benar lega tidak ada kemarahan lagi " 
Ibunya Nur segera berdiri, melihat beberapa Anak ikut mendekat padaku.
"Iya ibu sama sama, salam buat Nur, bilang Kami menunggunya di Sekolah mau Lomba OutBond jadi Nur harus Sekolah biar bisa ikutan lagi.."
Aku mengantar Tamuku sampai pintu dan bersalaman
."Akan saya sampaikan bu... terima kasih "
"Oh ya Bu... karena Nur tidak putih kalau bisa bedaknya jangan celemotan kalau pagi ya... Nur sudah manis ko tanpa bedak banyak banyak juga "
Aku sedikit menggoda Beliau 
" Aduuhhhh...Ibu saya jadi malu .. iya iya akan Saya perhatikan Bu .."
Beliau tertawa dengan menutup mulutnya. tak ada emosi sedikit pun di sana, aku benar benar lega.
Jadi Aku tak akan lagi membersihkan wajah mungil Nur yang selalu datang dengan bedak bayi yang belepotan

Dan tak sempat mengantar Tamuku sampai gerbang, tangan ku sudah di tarik Dika dan Teman Temannya
Ku cari Imel dengan mataku di sela menemani Dika baca Iqro, dan Imel ada di sana di bangkunya asyik dengan mainan yang sepertinya baru di belinya.senyumnya tetap manis, dengan gigi ompongnya.tak ada
sedikitpun gurat cemas di wajah polosnya itu, tak tahu dia gara gara nya temannya pagi ini ga mau masuk sekolah.
  Pekerjaan tambahan di waktu istirahat nanti pikirku.


Kanak Kanak yang luar biasa
Masa indah yang tak akan terulang
Setiap momentnya tertulis tanpa bisa terhapus
tertoreh di jiwa yang putih
menjadi pola dasar yang terekam kuat hingga ribuan bahkan jutaan hari berbilang ke depan
Aku
Tanpa bisa terelakkan
Hari ini, ikut menjadi bagian di pola itu.
Semoga menjadi bagian dari pola yang indah buat mereka kelak.


Anakku
Kau lah anak panah itu
Melesat ke masa depan
Masa di mana tak ku tahu akan seperti apa
Namun doaku akan selalu besertamu
Sampai di titik tertinggi di cita anganmu

Robbi Habli Min ladunka Dzuriyatan Thoyibban...

Amin.


by ; camar putih
rabu, 21312

Senin, 19 Maret 2012

Nyeri



Kemanakah larinya bianglala hatiku


senyap sekali ku raba tanpa getaran

warna warninya kemarin lalu memberiku hidup



kini pergi tanpa sisa berkasnya pun tak ada



apa salah yang telah ku buat

ku rasa cinta yang ku beri

ke renda dalam lelah ku untai dalam sabar

namun pergi jua

udara yang ku hirup terasa perih



merata hingga di ujung kaki

marah dan terluka menguras energiku

hingga lunglai

denyut nyeri ribuan jarum di kepalaku

menghapus semua memory indah



berdiri luruh tak mampu tegak

rebah sesak menyiksa

tertawan aku

dan ku ikhlaskan



berharap semua musnah terhapus nyeri

kadang hati harus teremas kuat

biar yang terikat kuat di dalam

menetes keluar meski teriring darah luka





by ; camar putih, 19 maret 2012
senin 17.10.

Sabtu, 10 Maret 2012


Jam Dinding belum juga genap di angka 09.00 malam.

Namun karena hujan dari sore mengguyur tanpa jeda membuat malam terasa sudah sepi, tak banyak aktifitas di jalanan sesekali ku dengar suara motor melaju cepat, tak nyaman berada di luar dalam kondisi cuaca yang dingin dan hujan begini.
Aku sedang malas, suasana hati yang lagi ga mood memperparah rasa malasku, ku rasakan perutku keroncongan , aku lapar, terakhir makan tadi siang sebelum dhuhur pulang sekolah, ada perasaan menyesal ingat tadi siang si Uni nasi padang menawariku nasinya mau setengah atau satu, aku bilang setengah saja Uni, haduh tahu begini tadi siang nasinya satu saja.. hehe.

Biskuit dan kue kering di toples tak menggugah seleraku beberapa makanan juga masih ada di kulkas masih tapi ingat dinginnya membuat seleraku terbang, ada telur dan mi instan, ah malas, ku bilang malas.
Sambil terlentang menatap langit langit kamar, hati yang sedang melo, perut kosong melilit, hujan, hmmm...kombinasi yang kumplit untuk cengeng.

Dan tiba tiba terbersit ingin bercengkrama denganMu, setengah merajuk menguji keberadaanMU dan kasih sayangMU yang ku yakini dan ku pelajari sejak aku masih belajar bicara dan belajar melangkah, ada rasa sungkan yang sangat menjalari hati,tabu, tidak sopan, iya memang.. sejak pertama aku mengerti pelajaran yang ku dapat adalah harus memperlakukan Tuhanku, Robbku, Penciptaku, dengan santun dan penuh hormat, tidak boleh kurang ajar.menghadap Guru saja kita harus sopan menunduk, takjim, apalagi menghadap Presiden bisa di penjara kalau tidak sopan , apalagi menghadap dan berbicara dengan Sang Maha Pencipta Raja dari segala Raja, dosa besar kalau tidak sopan , begitulah yang aku tahu dan aku dengar dari Guru ngajiku waktu kecil di Mushola belakang rumahku.

Tapi malam ini aku benar benar terusik dan tertantang.karena rasa lapar dan rasa sedih yang sedang menekanku, aku berontak.
Ah masa ... bukankah Maha Raja yang ku sembah Maha Pengasih dan Maha Penyanyang, Maha Lembut, Maha mendengarkan...??
masa sih jutekk..? masa sih garang kaya Satpam Kodim..??
Aku benar benar terusik
dan akhirnya terjadilah sebuah dialog kecilku bersamaNYA dalam rintik gerimis di keremangan malam

" Ya Alloh, Kau tahu aku lapar, aku mau sekali iniiiiii saja kau buat keajaiban untukku, katanya jika kita telah berbuat baik lalu meminta dengan tulus maka KAU akan mengabulkan permohonan dengan cepat, benarkah...?"
dan ku eja beberapa kebaikan yang telah ku lakukan yang menurut versiku cukup dapat di andalkan untuk ku jadikan proposal singkat padaNYA, hihihi... ada geli yang merayapi hati. tapi tak mengurungkan percakapanku denganNYA.
" Ya Alloh aku mau nasi kotak lengkap datang tiba tiba ke rumahku, entah dari mana dari siapa dalam rangka apa , KAU sajalah yang atur, pokoknya aku mau nasi kotak... cepat dan segera " hatiku berkata penuh rajukkan, tapi ku tutupi mukaku dengan bantal, bersembunyi.

Teringat kisah luar biasa sepanjang zaman, Assahabul Kahfi
Makin dalam ku tutup mukaku dengan bantal.
Namun hati tak juga mau tunduk.

Sejenak berpikir , mungkin jangan nasi kotak , kebagusan , kemewahan terlalu tak mungkin, bisik hatiku menawar.
" Baiklah, begini saja Ya Alloh, tolong aku, bukan kah jam segini tukang nasi goreng biasa lewat depan rumahku, nah tolong aku , jadikan keajaibanMU tiba tiba si tukang nasi goreng lewat... Pleaseeeeee... cepeeettt.. aku lapar...ga minta kok... aku mau beli...pake uangku, jadi aku pun berkorban tidak murni hadiah "
Hmmm.... ku buka bantal yang menutup mukaku , ke tajam kan telingaku berharap mendengar sura katel yang di pukul tukang nasi goreng, mataku terbuka siaga , juga telingaku, 5 menit....10 menit.. sampai setengah jam berlalu. aku manyun

"Awas yaa... kalau sampai subuh KAU biarkan aku kelaparan hmmm..."
Tak berani aku meneruskan meski hatiku agak menghangat karena kesel dan lapar.
berguling ke kanan ke kiri... gelisah
Semua gambar masa lalu yang menyakiti tiba tiba seperti film yang terputar otomatis.
Dan air mata jatuh berlinangan sambung menyambung tanpa isak,.
Jam dinding sekarang berhenti di angka 02.00
ku seka mataku yang sembab dan ku balikkan bantalku yang dingin karena basah.

" Permintaan terakhir Ya Alloh, buat aku tertidur dan terlupa akan rasa laparku, maka semua akan baik baik saja " bisikku pasrah.

" Mah bangun"
Anakku membaagunkan aku tepat jam 06.00 pagi. waktu subuhku sudah di ujung tanduk. dengan terburu buru ku tunaikan 2 rokaat subuhku

Di Akhir salam, aku tersenyum kecil, tiba tiba hatiku berbisik.
" Tenang lah ten.. kau tak makan semalam tak bakalan mati. masih ada lebih 5kg kelebihan berat badanmu, lemakmu masih melindungimu."

Aku tersipu malu.
Terima kasih Ya Alloh yang Maha Pengasih,Kau jaga tubuhku agar lebih langsing. hihihi..
ada sejuk mengalir
Ah
Senang juga berbincang denganMU
Ternyata KAU tak Jutek...

Yang KAU punya hanyalah Cinta dan Kasih untuk setiap Mahluk tak ada yang terlewat , meski hanya sehelai daun kuning yang kering DIAlah yang mengatur kapan jatuh luruh ke bumi.

Ampuni kekecilanku dalam memaknai.

"Alloh Maha Pengasih tanpa pilih kasih
Alloh Maha Peyanyang sayangnya tak terbilang
Alloh Maha Tahu tanpa di kasih tahu
Alloh.. Alloh .. La Ilaha Ilalloh...."

Sebait syair lagu anak anak di sekolah.mengiringiku merenda pagi.



by Camar putih,
banjar 10 maret 2012.

Gadis Kecil Dalam Kenangan

Aku melihatnya di antara bayangan,
Memantul di jendela kaca seusai hujan, memakai gaun berwarna merah dengan bunga bunga di ujung gaunnya  menggantung di atas paha putihnya yang kecil, rambut merahnya di kepang ekor kuda,bergoyang lucu di atas tengkuknya saat dia berlari ,bibir mungilnya merah, pipi montoknya dengan sebentuk lesung pipit kecil  juga bersemu merah, dia berlari menuju pintu sesaat teriakkan teman temannya di halaman memanggil namanya mengajaknya main.

"Ibu aku main..."
Tak sempat Ibunya menjawab, si kecil sudah menghilang di balik pintu, sudah lupa dia baru beberapa menit yang lalu dia pulang main dengan mata penuh  air mata, baginya teriakan temannya di halaman mengajaknya main sudah merupakan pelipur hatinya melupakan tragedi yang selalu terulang.dan merupakan permintaan maaf teman temannya tanpa kata.
Ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya tak sempat menahan, berharap dia pulang nanti dengan tawa.

Dan, di sinilah Si Gadis kecil itu berada bersama lima anak perempuan sebayanya sedang bermain lompat tali, dia memegang tali mengayunnya dengan semangat,  bibir mungilnya  tersenyum sangat manis tiba tiba
 gedebuk.... salah satu gadis kecil yang sedang melompat di dalam tali jatuh terjerat
"Aduuhh..."
Dengan sorot mata marah si gadis kecil yang terjatuh itu menghampiri si gadis kecil berbaju merah "Mengayun talinya yang beneerrr..!!."
Dengan gemes di cubitnya pipi putih itu. Si gadis kecil berbaju merah meringis menahan sakit, dia tidak mengerti kenapa dia yang di salahkan padahal dia sudah  merasa mengayunnya dengan benar, meski begitu dia tak berani protes dia tahu tak ada yang membelanya.
.Dengan menahan sakit sebelah tangannya memegang pipinya sebelah tangannya yang lain mengayun tali, semangatnya hilang sudah, senyum manisnya sirna berganti dengan rasa takut, takut salah yang tidak di mengertinya , takut di cubit pipinya lagi, sakitnya sampai ke hati melukainya lagi dan lagi, andai saja dia boleh menawar jangan cubit di pipi, sebab pipinya montok maka daging yang terjawil cukup tebal sanggup membuatnya meringis lama.

Kedua orang tuanya memanggil sayang namanya Atih, usianya kurang lebih 4 tahun , dengan kulit putih  dan rambutnya yang kemerahan warisan ayahnya yang dari Manado, membuat Atih jadi yang paling cantik di antara teman sebayanya di sebuah desa kecil di perbatasan Jawa Barat dan Jawa tengah, namun kecantikannya itu tak membuatnya beruntung di sayangi temannya , malah sebaliknya membuat temannya senang mengolok ngolok dan memojokkannya, sebenarnya Atih bukan gadis kecil yang cengeng, dia tahan di olok olok atau pun di jahili asal tetap di ajak main , tetapi jika sudah di cubit di pipi, itu menyakitinya maka dia akan pulang menyerah sepanjang jalan ke rumah dia akan menangis memanggil Ibunya.

Tidak mudah bagi Atih si gadis kecil berbaju merah itu berada dalam lingkungan di mana hampir semua teman sepermainanya  mempunyai kakak ataupun adik lebih dari satu , ya rata rata satu keluarga di karuniai anak lebih dari 5 orang dengan jarak yang cukup dekat antara 2 atau 3 tahun, jadi jika atih berumur 4 tahun maka teman sebayanya mempunyai dua kakak yang berumur sekitar 7 atau pun 9 tahun lebih, cukup kuat untuk  gadis kecil usia 4 tahun sebagai tameng jika atih ingin melawan, apalagi jika temannya itu bungsu maka kakaknya akan bertambah banyak dan besar, sedangkan Atih terlahir tunggal , jadilah dia seperti anak ayam kehilangan induknya di medan tempatnya bermain, terbuka tanpa ada yang membelanya.
 Atihlah yang akan menjadi kambing hitam jika permainan itu gagal, dia yang kebagian jaga lebih lama dari kesempatan dia main. tak jarang tiba giliran dia main dia di lewat tanpa satu alasan pun.

 Satu-satunya naluri membela dirinya, adalah dengan membawa beberapa makanan dari rumah, dia bagikan ke temannya tanpa dia sendiri kebagian asal dia di ajak main, ya benar dia di ajak main selama makanan itu ada di tangannya, akan kembali lagi ke semula saat makanan Atih habis.kembali menjadi yang terintimidasi.

Hingga menginjak usia sekolah Atih masih berada di dalam lingkarann itu, lingkaran yang menekan hatinya tapi tak mampu di hindarinya sebab dia tak tahu bagaimana caranya, sekalipun  dia sudah berusaha menjadi Gadis baik hati seperti nasehat Ibunya tiap kali dia mengadu, jangan dendam, jangan marah nanti malah tidak punya teman, begitu nasehat Ibunya selalu, ingin sebenarnya Atih protes bahwa dia sudah baik tidak benci temannya tapi temannya tetap jahat kepadanya, tapi dia kembali tak bisa menyampaikan isi hatinya kepada Ibunya, otak anak anaknya tidak sanggup menjabarkanya dengan tepat.

 Di rumah dia sangat di kasihi, segala rasa sedih dan marahnya di tumpahlkan di rumah, Ayah dan Ibunya sangat memanjakannya. maklum dia Anak tunggal segala perhatian Ayah Ibunya tumpah padanya .
Di sekolah  teman temannya tak ada yang membuatnya nyaman , dia sering menangis di bangkunya karena di ledek teman temannya sebagai anak Jepang karena rambutnya yang merah, dia bukan orang sunda , tapi anak Orang Jepang sang penjajah, yang di buang dari kapal terbang , begitu teman lelakinya meledeknya.

Ibunya menghibur Gadis kecil yang sangat di sayanginya itu  dengan dongeng  bahwa bidadari di surga juga rambutnya berwarna emas kemerahan seperti rambutnya, sambil tertidur di pangkuan Ibunya yang mengusap usap sayang rambut nya Atih bisa melupakan kesedihanya meski di ujung matanya masih menggantung bercak bening sisa tangisnya dan dongeng itulah selalu mampu mereda tangis sedih atih.tiap kali  dia pulang sekolah dengan mata sembab.

Satu malam bulan purnama penuh, untuk anak anak desa di tahun 70 an , ini adalah waktu main malam hari yang sangat menyenangkan  di bawah cahaya bulan yang terang benderang, anak anak kecil berlarian dengan tawa riang, berbagai permainan tergelar di pelataran rumah luas tak berpagar, ada permainan menginjak bayangan, petak umpet, pecle, gatrik, simar, semua begitu ceria dengan permainannya masing2, para Orang tua sebagian duduk duduk di teras sambil memperhatikan keceriaan anak anaknya, begitu pun malam itu, Atih dan teman temannya bermain drama dramaan, dengan judul Cinderella, film yang sedang populer di masa itu di mainkan Ira Maya Sopha

Dan mereka di haruskan ganti baju sebelum drama itu, satu persatu teman Atih ganti baju di dalam kurung kain yang di pegangi teman nya bergantian , tiba giliran Atih ganti baju, kurung kain itu di lepas dan teman nya lari sambil tertawa, terbukalah aurat Atih yang sedang jongkok tanpa busana ,hanya memakai celana dalam , meski masih anak anak , hati Atih sangat terluka , di pungutinya bajunya satu satu dengan air mata berlinang dia malu terlebih hatinya luka entah sedalam apa dia tak pernah tahu.
.Atijh tak ikut main drama dramaan hanya duduk di teras dengan mata nanar hingga Ibunya menjemputnya pulang karena malam terlalu larut untuk anak sekecil Atih waktu itu.

 Moment itu menjadi sebuah ingatan panjang yang tak terhapus menimbulkan luka hati yang sangat dalam bagi Si Gadis kecil itu, padahal sebenarnya dia sangat menyukai permainan itu terbukti di antara semua teman sepermainanya hanya Atih yang terpilih sebagai pemeran utama di sebuah drama beneran yang di sutradai Guru ngajinya,di kemudian hari. dan dramanya itu sempat menjadi sebuah hiburan yang sangat di minati penduduk di seluruh desanya tak jarang Atih dan grup asuhan Ustadnya mendapat undangan tampil di tempat hajatan, usia Atih sudah sekitar 8 tahun saat itu.

 Dan di grup itulah pertama kalinya Atih merasakan sebuah penerimaan yang membuatnya nyaman dan, di hargai,tak lagi merasa terintimidasi, menjadi bahan olokan, dengan prestasinya itu dia mendapat teman baru, sayang tidak lama sebab kemudian sahabat barunya itu sekeluarga pindah ke Jakarta, dan Atih sangat terpukul sampai tak mau sekolah lagi.

Ibunya kewalahan , sudah di bujukknya berulang ulang tapi Atih tetap tidak mau kembali ke sekolah karena tak ada sahabat kecilnya di sana, sampai sampai dia minta Ibunya pindah ke Jakarta mencari sahabatnya.

Ibunya lalu memindahkan Atih ke sekolah baru, kebetulan teman teman nya di sana cukup baik dan menghormatinya, klas 5 dia waktu itu, di semester pertama Atih langsung mendudukli rangking 1, padahal sebelumnya Atih tak pernah secemerlang itu, ternyata intimidasi dari perlakuan teman teman sepermainnanya begitu kuat menekan jiwanya sehingga membuat Atih tak mampu berprestasi.padahal sejatinya dia mampu, begitu lama dia kehilangan waktu yang seharusnya bisa ternikmati dan mampu menyediakan ruang baginya untuk menunjukkan bakatnya.

Aku melihat bayangan Gadis kecil berbaju merah dengan mata sembab itu kembali, mendekatiku, menyentuhkan tanganya pada tanganku yang menempel di kaca yang berembun karena hujan belum jua usai, dini hari menjelang, bayangan itu merapat masuk dan menghilang di ujung jariku.

 Waktu telah lama berlalu, berganti ulang dengan ribuan moment.
Tak lagi bergaun merah di atas paha, tak lagi berkepang ekor kuda namun aura sedih nya belum juga pudar, Dejapukah hidupku ini...?
Kenapa setiap moment selalu dalam pola yang sama...?
Di persalahkan tanpa tahu mengapa, di hakimi tanpa sempat beralibi
Memberi semua yang ku punya bahkan tak sempat ku nikmati namun tetap saja menjadi yang terabaikan.


ya
Gadis kecil bergaun merah itu
Bersembunyi terkurung sedih dalam jiwaku.


by ; camar putih
      dini hari 10 maret 2012