Kamis, 29 Maret 2012

Permen Papa



Bangun tidur pagi Papaku agak rewel,merengek rengek ga jelas, ku tanya sambil ku cium pipinya hmmm.. bau acemmm.
"Ko bangun tidur nangis sayang, mimpi buruk ya..?"
Papa hanya merengek seperti ada yang ingin dia katakan, tapi ga yakin
"Papa mau apa..?bilang sama mamah ga pake nangis nanti ga jelas ngomongnya.."
Ku dudukan dia di tepi tempat tidur dan Aku berjongkok di depannya.
"Boleh ngga Papa minta permen ..?"
hmmmm.. pantes dia ragu sebab Dia tahu aku ga begitu suka kalau Dia jajan permen, sebab giginya selalu bermasalah kalau kebanyakkan makan yang manis.
"Kenapa Papa mau permen, kan gigi Papa suka sakit batuknya juga masih ada..?" ku ingatkan Dia sambil duduk di sampingnya.
"Papa mau permen temen temen Papa suka beli, Papa juga mau..boleh ya mah..?"
Mata bulatnya memohon
"Baiklah karena Papa mintanya ga pake nangis Papa boleh nanti beli permen di sekolah, tapi jangan malas sikat giginya ya..?"
"Taa..pii... permennya mau 2 mah ..? "
Aku mengernyitkan dahi,ku lirik jam semakin beranjak siang dan sambil ku tuntun ke kamar madi aku mengangguk ringan, dia pun tertawa senang.
Sesampainya di sekolah seperti janjiku ku belilkan Papa permen 2 buah seperti permohonannya, dengan satu kesepakatan di makan sewaktu istirahat.dan dia patuh.
Dan kegiata belajar mengajar pun mengalir padat hingga waktu istirahat tiba, Aku sibuk membubuhkan bintang di setiap buku Anak Anakku.
9.30 Selesai sudah, waktunya Shalat Dhuha.
Anak anak semua ku giring ke Mesjid
"Ayoo makanannya habisin kita Shalat Dhuha nak .."
Anak Anak berlarian ke tempat wudhu.
"Ibuuu.. aku habisin dulu permennya ini di kasih papa bu..."
Nadya menjejeri langkahku menuju tempat wudhu.
"Oh ya......?" ku lirik Papa yang menguntit dibelakang, menatapku dengan senyum penuh arti.
Ku gandeng keduanya Papa di kananku dan Nadya di kiriku.
"Hebat... Sahabat yang baik ya, saling memberi dan menyayangi, Ibu senang "
Papaku memang juara bagiku.
Selalu ada moment yang membuatku belajar memaknai
Selalu saja kepolosannya membuatku takjub.
Itulah cinta yang tanpa tendensi
Cinta yang tanpa syarat
Cinta yang tak berhitung
Hanya ada satu keinginan memberi.titik.
Makasih banyak sayang..
Kau selalu luar biasa..


by Camar putih.
Selasa pagi, 27 maret 2012

Jumat, 23 Maret 2012

Muhammad Ziyadhatul Khoiry, Permataku



Dua telaga bening ini
Selalu mampu meruntuhkan hatiku membuatku tak berdaya saat ia meminta
Dua telaga bening ini
Selalu mampu  mengajariku bahwa duka tak selamanya air mata
Dua telaga bening ini
Selalu mampu membuatku berdada lapang seluas samudra


Dalam lepas gelak tawa riangnya
Ku dapatkan indahnya hidup
Dalam rengekan manjanya
Kudapatkan betapa berartinya diriku melebihi dunia beserta isinya baginya
Dalam cerewet dan sejuta tanyanya
Kudapatkan pelajaran yang tak pernah berwisuda


.Ya Robbi tak putus Syukurku,
Terimakasih telah hidupkan Ia untukku,
 Di sebuah malam menjelang Iedul Fitri
 Hadir dengan senyum Malaikat di pangkuanku







by ;Camar putih, 24 April 2011

Merpatiku



Terbanglah, hai Merpati rinduku

Lewati langit sebrangi lautan gemawan
Sampaikan padanya ada sebongkah hati lara menanti 

Menguntai harap di sela jemari, menghitung waktu yang tak mau kompromi 
Tak jua asa berpihak meski musim ribuan kali berganti 
Terbanglah
Sebab aku akan tetap berdiri di sini 
Tak peduli hingga ujung usia 

Tak peduli pedih letih melumuriKembalilah bawa ia untukku 
Di awal pagi saat matahari hadir menemani
Ataukah saat malam berganti menjagai
Tak lagi penting di antara keduanya
Terbanglah terus demiku
Sebab padamu daya hidupku tersimpul
Tawa tangisku terpusat

Tahukah kau hai Merpati rinduku
Inginku sederhana 
Ku ingin ada saat dia pertama membuka mata 
Dengan senyumku yang mewakili
Kujaminkan untuknya semua akan  baik baik saja
Karena cintaku menjadi penjaganya.











by ;camar putih
     banjar mei 2011.

Kamis, 22 Maret 2012

Mimpi yang hilang




Jadwal pengajian bulanan Orang tua murid, bulan ini giliran Ibunya Dadan yang ketempatan rumahnya, karena sudah menjadi kesepakatan pengajian rutin bulanan di adakan di rumah Orang Tua murid siapa saja yang bersedia, tidak di tunjuk.
Selepas jam pelajaran, sedianya Anak Anak yang Orang Tuanya tidak hadir mengikuti pengajian di pulangkan, namun sesaat ada telepon dari BFC, bahwa pihak BFC sudah menyediakan snack utnuk Anak Anak.
Subhanalloh...
Akhirnya Anak Anak kami bawa serta , bukan main gembiranya mereka.
Ya hari ini, agak istimewa sebab pengisi materi pengajian akan hadir dari pihak Banjar Family Center, kami akan kedatangan Tamu.
 Alhamdulillah.
Akhirnya Tamu yang Kami tunggu pun tiba.
Dengan sedikit kerepotan karena barang yang di bawa cukup banyak ternyata, Kami sambut Ibu Ketua BFC, Ibu Etty atau sering di panggil Ummi Urin dan Ibu Yuni dengan penuh antusias.

Dan Segera pengajian pun di gelar.
Subhanalloh .. materi yang di sampaikan begitu bermanfaat.
Tema yang Kami minta adalah tentang Pola Asuh Yang Terbaik buat Anak anak, dan Ummi Urin membahasnya dengan lengkap dan tepat, meski waktu yang tersedia tidak cukup banyak, namun Ilmu yang Kami dapat dari Beliau sungguh padat, menyenangkan hingga tak sempat Kami merasa bosan , di selingi candaan Beliau yang ringan namun penuh teladan membuat Kami betah mendengarkannya.
Ada yang menarik tentang Beliau, sesuatu yang membuat Beliau jadi menarik dan sangat inspiratip, ini bukan tentang isi materi Beliau , lain kali akan Ku bahas, Aku lebih ingin bercerita tentang sosok Beliau Ummi Urin, Ibu ketua BFC.

Beliau dengan sosok nya yang tinggi dan tidak cukup langsing, hehehe... iya di situlah kelebihan Beliau, ketika Kami bertemu Beliau Kami lupa bahkan tidak memperhatikan bahwa Beliau besar, raut Wajahnya yang putih bersih sarat senyum bahkan di saat Beliau belum sempat tersenyum pun Kami sudah merasakan dan melihatnya tersenyum, Luar biasa.
Itulah yang membuat Kami dengan segera merasakan kebaikkan dan keramahannya, Beliau menjadi cantik dan menarik karena senyum ramahnya dan kecerdasan hatinya.
Ada sesuatu yang sangat berkesan dari Beliau, begitu menyentuh bagiku, menyentuh mimpiku dulu yang kini hilang tak bisa teraih.

Ummi Urin bercerita, bahwa ketika sang Suami tercinta mendapatkan amplop gaji bulanan, Beliau itu tidak langsung pulang ke rumah, namun singgah di rumah Ibunya, Ibu Mertua Ummi Urin dan mempersembahkan Gajinya pada Ibundanya, untuk di ambil berapapun yang Ibundanya kehendaki, lalu sisanya baru untuk Anak Istrinya di rumah , Subhanalloh bergetar hatiku hingga membuatku menunduk saat mendengar cerita Ummi Urin dan Ibunda yang luar biasa itu pun selalu mengambil tidak sampai sepersepuluh dari amplop yang di persembahkan Ananda nya itu. hanya sedikit bahkan sangat sedkit . begitu kata Ummi Urin Sang Menantu yang ikhlas ini.
Tidak itu saja bahkan ketika Sang Suami pergi keluar Kota, buah tangan oleh oleh yang di bawa tidak langsung ke rumahnya namun di bawanya ke rumah Ibundanya , untuk mempersilahkan Ibundanya memilih oleh oleh mana yang paling di sukainya lalu sisanya baru lah di bawa untuk buah tangan Anak Istri di rumah.dan lagi lagi Sang Ibunda yang beruntung itu selalu mengambil sedikit bahkan sangat sedikit, lebih teringat pada para Cucu dan Menantunya yang baik hati .

Allohu Akbar
Ternyata masih ada teladan nyata di sekeliling kita.
Betapa Indah.
Sungguh, Berbahagianya Sang Ibunda yang pasti sudah lanjut usia, mendapat penghormatan yang berbalur cinta kasih sedemikian tulus dari Anak lelaki yang di kasihinya juga dari Menantu yang ikhlas dan para Cucu yang pasti sangat mencintai eyangnya.
Sudah pasti Beliau tak memerlukan lagi Dunia dengan segala isinya sekalipun itu di hantar oleh Anak lelakinya di hadapannya, sebab relung hati Seorang Bunda sudah sangat penuh sesak dengan keharuan atas persembahan Cinta Anak menantunya.

Hormatku untuk Ibunda, yang telah berhasil mendidik Anak lelakinya menjadi Lelaki yang sejati.
Meski jelas pasti begitu besar Cinta untuk Anak Istri tak lantas menjadikannya lelaki pengecut yang takut istrinya marah karena merasa di di nomor duakan.
Selamat Bunda.
Sebab telah membuat Anak lelakinya berhasil mendidik Anak Istrinya untuk menjadi ikhlas, penuh kasih yang tulus.
Dan Selamat buat sang Suami terkasih, telah menjadi pemimpin yang sejati. tidak gentar dalam melaksanakan kewajiban, menempatkan sesuatu sesuai prioritas, itulah yang di contohkan baginda Rosullulloh Muhammad SAW.

Dan terakhir Selamat Buat seorang Istri yang cantik dan sholehah.
Karenanya. 
Seorang Bunda di usia lanjutnya merasakan bahagia
Sebabnya
Seorang Anak lelaki mampu menjadi Anak Sholeh yang berbakti
Ibu...... Aku memanggil Beliau begitu
Ummi Urin...Begitu orang di sekelilingnya memanggil Beliau
Kau adalah wanita bahagia yang telah menginspirasi lingkungan di sekelilingmu.
Kebahagiaanmu dalam keluarga menular membias ke sekelilingmu lebih luas dari yang kau kira.

Teruslah berkarya
Kami membutuhkanmu untuk membimbing Kami agar mampu menjadi Istri yang Sholehah sepertimu Bahagia juga sepertimu.
Terima kasih banyak
Atas hadirmu di tengah tengah kami.
Tetaplah Sehat
Tetaplah tersenyum

Hari yang Indah..penuh berkah
oh yaa... mimpiku hilang sebab dulu aku bermimpi untuk menjadi istri seperti itu
Tapi tak lama aku menikmatinya, sebab  Mertuaku keduanya sudah berpulang demikian juga Ibundaku.
Tinggal doa yang bisa ku persembahkan untuk Beliau.








by ; camar putih
      Pataruman, saat hujan sore turun sangat deras

Rabu, 21 Maret 2012

Ketika Nur menangis







Pagiku agak terburu buru, semalam sampai larut menyelesaikan administrasi harian Sekolah, kunjungan penilaian untuk Akreditasi Sekolah cukup menyita waktu dan energiku juga untuk Guru Guru yang lain.


Sampai di Sekolah masih ada beberapa laporan yang harus segera di bereskan, Anak anak mengerubutiku meminta di temani membaca Iqro kegiatan rutin tiap pagi sebelum jam pelajaran di mulai. Dan Aku kewalahan juga.

"Ayo sayang .. baca Iqronya sama Bu Itit ya..."
Beberapa kemudian kembali ke kelas, Dika masih mengintip di pintu enggan beranjak, dahinya berkerut
."Ibu selesaikan laporan dulu ya, Dika baca Iqronya sama Bu Itit ya.."
Aku membujuk dengan senyum, dan Dika pun beringsut masuk kelas di wajahnya tak ada senyum.
Belum juga ku mulai laporan harian yang harus segera ku selesaikan itu , Tiba tiba ada tamu, sepertinya Orang Tua murid namun Aku lupa Ibunya siapa ya.?pikirku sambil berdiri menyambutnya.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam .. mari masuk Ibu.."
Aku mempersilahkan Beliau masuk dan menemani Beliau duduk di ruang tamu sebab ga ada yang lain selain aku di ruang kantor.
 "Saya Ibunya Nur Bu..."
 Beliau memperkenalkan diri sebelum Aku bertanya. Aku jadi teringat Beliau bulan lalu Kami menengok Nur ke rumahnya saat Nur lebih dari 4 hari tidak masuk Sekolah, agak pangling Beliau berkerudung sekarang .

"Oh iya Ibu... kenapa ..? ada yang bisa saya bantu..? atau mau ketemu Ibu Kepala ..?
Segera Ku tanya sebab ada mendung di wajahnya, sepertinya ada yang tak beres
."Tidak apa apa sama Ibu juga.."
"Iya bu, Ibu kepala sedang repot.." Aku sedikit menjelaskan mohon di maklumi.
Ku robah posisi dudukku menghadapnya siap mendengar.
"Ini Bu.. Nur tak mau sekolah.."
Beliau memulai dengan agak tersendat,
 "Oh kenapa katanya Bu..? apa Nur sakit..? "
Selintas wajah mungil Nur terbayang di benakku
" Tidak bu.. hanya Nur tidak mau sekolah, karena di ejek Imel terus menerus begitu katanya"
 "Oh... Imel..?" Aku sedikit terkejut teman sebangku Nur yang ku tahu sering main bersamanya
."Iya Bu...Saya sudah membujuknya, tapi Nur nya malah menangis, tetap tidak mau berangkat ke Sekolah, padahal mau di temani di Sekolah asal mau berangkat "
"Imel mengejek bagaimana Bu.?."
Ada perasaan bersalah sebab Aku luput dari hal ini.
 "Nur di bilang jelek dan hitam tidak seperti Imel putih, maklum Anak Anak Bu, jadi Nurnya nangis , karena di ejeknya berulang ulang terus Bu.. "
Nada Suara Ibunya Nur agak meninggi, sebagai Ibunya jelas merasa ikut sakit hati dan sedih Anaknya di ejek begitu rupa.Aku memahaminya.

Ku sentuh tangan Ibunya Nur dan ku genggam dengan lembut.
"Ibu katakan apa sama Nur..?"
"Saya bilang saya akan melaporkan Imel sama Ibu Guru di Sekolah agar di tegur jangan mengejek orang lain seperti itu, kalau tetap tidak berubah Saya akan mendatangi Ibunya agar Anaknya di bilangin, Saya tidak tega Anak saya di begitukan Bu.."
Tumpah sudah kemarahan tertahan Ibunya Nur.
"Iya Ibu saya mengerti.." 

Aku tersenyum sabar mengimbangi amarah Tamuku.
Terbayang lagi dua wajah mungil Anak anakku, satu putih penuh senyum dengan gigi ompong depannya milik Imel, satu lagi memang agak hitam dengan gigi putih dan rapi milik Nur.
Dua duanya tetap Anak Anakku tak ada satu dari keduanya yang lebih ku bela.hanya Ibu di depanku ini membutuhkan pegangan yang harus ku beri untuk menentramkan kegelisahannya.



Ke geser dudukku lebih menghadap ke Ibunya Nur
"Ibu...Nur memang tidak putih bukan...?" Aku tersenyum lembut.
Tapi tidak Ibunya Nur, nampak jelas keterkejutannya mendengar jawabanku, mungkin bukan kata kata itu yang Beliau harapkan, Aku paham itu
" iya sih Bu..anak saya tidak putih, katakan saja hitam tapi tidak untuk di ejek ejek Bu.."
Nada tidak suka tertangkap jelas, dan aku benar benar tersenyum lebar. 
"Ibu... tahu tidak ..? kemarahan Ibu ini yang menyebabkan Nur tidak mau masuk Sekolah meski sudah Ibu bujuk"
"Maksud Ibu..?."
Masih dengan senyum Aku mencoba menurunkan kemarahan Tamuku ini
"Ibu...Nur memang agak hitam, jadi sesungguhnya Imel tidak salah dengan kata katanya , Maaf bukan pula berarti Imel benar dengan sikapnya, nanti akan saya coba mengajak Imel bicara untuk memperbaikki sikapnya karena telah membuat temannya sedih."
Ku lihat Ibunya Nur menunduk , Aku tahu Beliau belum paham ke mana arahku bicara.
"Begini Bu...memang Nur tidak putih dan agak hitam, dan itu benar adanya, mari kita sampaikan kebenaran itu pada Nur, itu kenyataan, jadi jangan mencoba membelokkan atau memanipulasi, dengan memarahi pihak lain katakan saja Imel lalu membenarkan kesedihan Nur itu malah membantu Nur tidak bisa mengatasi kenyataan yang sesungguhnya.."Ibunya Nur terdiam "Sederhana nya begini bu...jika Nur menangis di ejek temannya karena kulitnya yang hitam, katakan sama Nur, agar dengan berani membalas ejekan temannya dengan kata kata misalnya begini, memang iya aku hitam .. mau apa ..?? tapi aku juara 1 gerak dan lagu ..1"
Nur memang masuk di grup yang mengikuti lomba Gerak dan Lagu bahkan menjadi Juara 1.
 Ibunya Nur menatapku seperti terkejut, ada harapan yang bersinar di mata Beliau.
 Dan Aku melanjutkan.
"Atau begini... memang iya aku hitam tapi gigiku rapi ga ompong..atau lain kali begini .. iya memang aku hitam tapi Aku sudah Iqro 3 misalnya.."

Aku menarik nafas, mempersilahkan tamuku memahami apa yang ku sampaikan perlahan lahan, ku lihat Beliau berusaha mencerna kata kataku dan Aku mendapat peluang.


"Ibu.. mari kita biasakan pada Anak Anak kita agar tidak minder dengan kelemahan jika itu merupakan kelemahan, tak apa jika itu ada , kita terima dengan sikap ikhlas, tetapi mari kita juga fokuskan Anak Anak kita pada kelebihan kelebihan mereka atau prestasi prestasi mereka, Ibu pasti tahu dan apa saja kelebihan itu, meskipun itu hal hal yang kecil mari kita hargai dan kita besarkan, agar anak anak juga menyadari bahwa dia cukup hebat untuk di banggakan, Kita , Orang tua adalah pendukung utama Dia..."
Ibunya Nur tampak berkaca kaca.
"Saya tidak terpikir begitu bu... jujur Saya malah marah pada Imel "
"Dengan selalu berpikir pada kelebihan dan prestasi Anak kita, misalnya Nur rajin Shalat, Rajin mengaji, mandiri dalam mengurus dirinya misalnya sudah mampu mandi dan makan sendiri, itu sudah merupakan prestasi juga Bu, mari kita beri dia semangat dan mengabaikan kelemahannya"
"Saya baru sadar Bu.. Maaf tadi terus terang datang ke sini pun Saya agak emosi "
Aku tersenyum.
"Tak apa Ibu.. Kita saling mengingatkan , Kami juga dari Sekolah mohon maaf karena lalai memperhatikan Anak Anak, sampai kejadian ini luput dari perhatian Kami."
"Anak sekarang begitu ya Bu cara mengatasinya, Saya jadi merasa bodoh sekali .." 
Ibunya Nur tersenyum dengan perasaan yang membuatnya geleng geleng kepala
"Tidak juga Ibu.. itu hanya sedikit saran saja .. sebab jika Nur berani mengatakan prestasi prestasi yang dia raih, Orang lain atau Teman Temannya yang lain tidak bisa membantahnya, dan bagi Anak anak akan menjadi ajang meraih prestasi yang positip menjadi daya saing yang bagus Bu...Insya Alloh "
 Kembali ku sentuh tangan  Ibunya Nur yang kini sudah nampak lega.
Dan Beliau tersenyum kecil menyusut bercak di matanya.
"Ibuuuu.... hayooo Dika mau baca sama Ibu "
 Dika mengintip sambil merengek di balik pintu
." Iya sayang boleh, Dika baca sama Ibu tapi sebenatar ya Ibu ada Tamu "
 Ku ulurkan tangan meraih Dika , dengan segera dia berlari mendekatiku
."Oh iya bu , maaf Saya mengganggu, Saya sudah selesai , makasih banyak Bu nasehatnya saya benar benar lega tidak ada kemarahan lagi " 
Ibunya Nur segera berdiri, melihat beberapa Anak ikut mendekat padaku.
"Iya ibu sama sama, salam buat Nur, bilang Kami menunggunya di Sekolah mau Lomba OutBond jadi Nur harus Sekolah biar bisa ikutan lagi.."
Aku mengantar Tamuku sampai pintu dan bersalaman
."Akan saya sampaikan bu... terima kasih "
"Oh ya Bu... karena Nur tidak putih kalau bisa bedaknya jangan celemotan kalau pagi ya... Nur sudah manis ko tanpa bedak banyak banyak juga "
Aku sedikit menggoda Beliau 
" Aduuhhhh...Ibu saya jadi malu .. iya iya akan Saya perhatikan Bu .."
Beliau tertawa dengan menutup mulutnya. tak ada emosi sedikit pun di sana, aku benar benar lega.
Jadi Aku tak akan lagi membersihkan wajah mungil Nur yang selalu datang dengan bedak bayi yang belepotan

Dan tak sempat mengantar Tamuku sampai gerbang, tangan ku sudah di tarik Dika dan Teman Temannya
Ku cari Imel dengan mataku di sela menemani Dika baca Iqro, dan Imel ada di sana di bangkunya asyik dengan mainan yang sepertinya baru di belinya.senyumnya tetap manis, dengan gigi ompongnya.tak ada
sedikitpun gurat cemas di wajah polosnya itu, tak tahu dia gara gara nya temannya pagi ini ga mau masuk sekolah.
  Pekerjaan tambahan di waktu istirahat nanti pikirku.


Kanak Kanak yang luar biasa
Masa indah yang tak akan terulang
Setiap momentnya tertulis tanpa bisa terhapus
tertoreh di jiwa yang putih
menjadi pola dasar yang terekam kuat hingga ribuan bahkan jutaan hari berbilang ke depan
Aku
Tanpa bisa terelakkan
Hari ini, ikut menjadi bagian di pola itu.
Semoga menjadi bagian dari pola yang indah buat mereka kelak.


Anakku
Kau lah anak panah itu
Melesat ke masa depan
Masa di mana tak ku tahu akan seperti apa
Namun doaku akan selalu besertamu
Sampai di titik tertinggi di cita anganmu

Robbi Habli Min ladunka Dzuriyatan Thoyibban...

Amin.


by ; camar putih
rabu, 21312

Senin, 19 Maret 2012

Nyeri



Kemanakah larinya bianglala hatiku


senyap sekali ku raba tanpa getaran

warna warninya kemarin lalu memberiku hidup



kini pergi tanpa sisa berkasnya pun tak ada



apa salah yang telah ku buat

ku rasa cinta yang ku beri

ke renda dalam lelah ku untai dalam sabar

namun pergi jua

udara yang ku hirup terasa perih



merata hingga di ujung kaki

marah dan terluka menguras energiku

hingga lunglai

denyut nyeri ribuan jarum di kepalaku

menghapus semua memory indah



berdiri luruh tak mampu tegak

rebah sesak menyiksa

tertawan aku

dan ku ikhlaskan



berharap semua musnah terhapus nyeri

kadang hati harus teremas kuat

biar yang terikat kuat di dalam

menetes keluar meski teriring darah luka





by ; camar putih, 19 maret 2012
senin 17.10.

Sabtu, 10 Maret 2012


Jam Dinding belum juga genap di angka 09.00 malam.

Namun karena hujan dari sore mengguyur tanpa jeda membuat malam terasa sudah sepi, tak banyak aktifitas di jalanan sesekali ku dengar suara motor melaju cepat, tak nyaman berada di luar dalam kondisi cuaca yang dingin dan hujan begini.
Aku sedang malas, suasana hati yang lagi ga mood memperparah rasa malasku, ku rasakan perutku keroncongan , aku lapar, terakhir makan tadi siang sebelum dhuhur pulang sekolah, ada perasaan menyesal ingat tadi siang si Uni nasi padang menawariku nasinya mau setengah atau satu, aku bilang setengah saja Uni, haduh tahu begini tadi siang nasinya satu saja.. hehe.

Biskuit dan kue kering di toples tak menggugah seleraku beberapa makanan juga masih ada di kulkas masih tapi ingat dinginnya membuat seleraku terbang, ada telur dan mi instan, ah malas, ku bilang malas.
Sambil terlentang menatap langit langit kamar, hati yang sedang melo, perut kosong melilit, hujan, hmmm...kombinasi yang kumplit untuk cengeng.

Dan tiba tiba terbersit ingin bercengkrama denganMu, setengah merajuk menguji keberadaanMU dan kasih sayangMU yang ku yakini dan ku pelajari sejak aku masih belajar bicara dan belajar melangkah, ada rasa sungkan yang sangat menjalari hati,tabu, tidak sopan, iya memang.. sejak pertama aku mengerti pelajaran yang ku dapat adalah harus memperlakukan Tuhanku, Robbku, Penciptaku, dengan santun dan penuh hormat, tidak boleh kurang ajar.menghadap Guru saja kita harus sopan menunduk, takjim, apalagi menghadap Presiden bisa di penjara kalau tidak sopan , apalagi menghadap dan berbicara dengan Sang Maha Pencipta Raja dari segala Raja, dosa besar kalau tidak sopan , begitulah yang aku tahu dan aku dengar dari Guru ngajiku waktu kecil di Mushola belakang rumahku.

Tapi malam ini aku benar benar terusik dan tertantang.karena rasa lapar dan rasa sedih yang sedang menekanku, aku berontak.
Ah masa ... bukankah Maha Raja yang ku sembah Maha Pengasih dan Maha Penyanyang, Maha Lembut, Maha mendengarkan...??
masa sih jutekk..? masa sih garang kaya Satpam Kodim..??
Aku benar benar terusik
dan akhirnya terjadilah sebuah dialog kecilku bersamaNYA dalam rintik gerimis di keremangan malam

" Ya Alloh, Kau tahu aku lapar, aku mau sekali iniiiiii saja kau buat keajaiban untukku, katanya jika kita telah berbuat baik lalu meminta dengan tulus maka KAU akan mengabulkan permohonan dengan cepat, benarkah...?"
dan ku eja beberapa kebaikan yang telah ku lakukan yang menurut versiku cukup dapat di andalkan untuk ku jadikan proposal singkat padaNYA, hihihi... ada geli yang merayapi hati. tapi tak mengurungkan percakapanku denganNYA.
" Ya Alloh aku mau nasi kotak lengkap datang tiba tiba ke rumahku, entah dari mana dari siapa dalam rangka apa , KAU sajalah yang atur, pokoknya aku mau nasi kotak... cepat dan segera " hatiku berkata penuh rajukkan, tapi ku tutupi mukaku dengan bantal, bersembunyi.

Teringat kisah luar biasa sepanjang zaman, Assahabul Kahfi
Makin dalam ku tutup mukaku dengan bantal.
Namun hati tak juga mau tunduk.

Sejenak berpikir , mungkin jangan nasi kotak , kebagusan , kemewahan terlalu tak mungkin, bisik hatiku menawar.
" Baiklah, begini saja Ya Alloh, tolong aku, bukan kah jam segini tukang nasi goreng biasa lewat depan rumahku, nah tolong aku , jadikan keajaibanMU tiba tiba si tukang nasi goreng lewat... Pleaseeeeee... cepeeettt.. aku lapar...ga minta kok... aku mau beli...pake uangku, jadi aku pun berkorban tidak murni hadiah "
Hmmm.... ku buka bantal yang menutup mukaku , ke tajam kan telingaku berharap mendengar sura katel yang di pukul tukang nasi goreng, mataku terbuka siaga , juga telingaku, 5 menit....10 menit.. sampai setengah jam berlalu. aku manyun

"Awas yaa... kalau sampai subuh KAU biarkan aku kelaparan hmmm..."
Tak berani aku meneruskan meski hatiku agak menghangat karena kesel dan lapar.
berguling ke kanan ke kiri... gelisah
Semua gambar masa lalu yang menyakiti tiba tiba seperti film yang terputar otomatis.
Dan air mata jatuh berlinangan sambung menyambung tanpa isak,.
Jam dinding sekarang berhenti di angka 02.00
ku seka mataku yang sembab dan ku balikkan bantalku yang dingin karena basah.

" Permintaan terakhir Ya Alloh, buat aku tertidur dan terlupa akan rasa laparku, maka semua akan baik baik saja " bisikku pasrah.

" Mah bangun"
Anakku membaagunkan aku tepat jam 06.00 pagi. waktu subuhku sudah di ujung tanduk. dengan terburu buru ku tunaikan 2 rokaat subuhku

Di Akhir salam, aku tersenyum kecil, tiba tiba hatiku berbisik.
" Tenang lah ten.. kau tak makan semalam tak bakalan mati. masih ada lebih 5kg kelebihan berat badanmu, lemakmu masih melindungimu."

Aku tersipu malu.
Terima kasih Ya Alloh yang Maha Pengasih,Kau jaga tubuhku agar lebih langsing. hihihi..
ada sejuk mengalir
Ah
Senang juga berbincang denganMU
Ternyata KAU tak Jutek...

Yang KAU punya hanyalah Cinta dan Kasih untuk setiap Mahluk tak ada yang terlewat , meski hanya sehelai daun kuning yang kering DIAlah yang mengatur kapan jatuh luruh ke bumi.

Ampuni kekecilanku dalam memaknai.

"Alloh Maha Pengasih tanpa pilih kasih
Alloh Maha Peyanyang sayangnya tak terbilang
Alloh Maha Tahu tanpa di kasih tahu
Alloh.. Alloh .. La Ilaha Ilalloh...."

Sebait syair lagu anak anak di sekolah.mengiringiku merenda pagi.



by Camar putih,
banjar 10 maret 2012.

Gadis Kecil Dalam Kenangan

Aku melihatnya di antara bayangan,
Memantul di jendela kaca seusai hujan, memakai gaun berwarna merah dengan bunga bunga di ujung gaunnya  menggantung di atas paha putihnya yang kecil, rambut merahnya di kepang ekor kuda,bergoyang lucu di atas tengkuknya saat dia berlari ,bibir mungilnya merah, pipi montoknya dengan sebentuk lesung pipit kecil  juga bersemu merah, dia berlari menuju pintu sesaat teriakkan teman temannya di halaman memanggil namanya mengajaknya main.

"Ibu aku main..."
Tak sempat Ibunya menjawab, si kecil sudah menghilang di balik pintu, sudah lupa dia baru beberapa menit yang lalu dia pulang main dengan mata penuh  air mata, baginya teriakan temannya di halaman mengajaknya main sudah merupakan pelipur hatinya melupakan tragedi yang selalu terulang.dan merupakan permintaan maaf teman temannya tanpa kata.
Ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya tak sempat menahan, berharap dia pulang nanti dengan tawa.

Dan, di sinilah Si Gadis kecil itu berada bersama lima anak perempuan sebayanya sedang bermain lompat tali, dia memegang tali mengayunnya dengan semangat,  bibir mungilnya  tersenyum sangat manis tiba tiba
 gedebuk.... salah satu gadis kecil yang sedang melompat di dalam tali jatuh terjerat
"Aduuhh..."
Dengan sorot mata marah si gadis kecil yang terjatuh itu menghampiri si gadis kecil berbaju merah "Mengayun talinya yang beneerrr..!!."
Dengan gemes di cubitnya pipi putih itu. Si gadis kecil berbaju merah meringis menahan sakit, dia tidak mengerti kenapa dia yang di salahkan padahal dia sudah  merasa mengayunnya dengan benar, meski begitu dia tak berani protes dia tahu tak ada yang membelanya.
.Dengan menahan sakit sebelah tangannya memegang pipinya sebelah tangannya yang lain mengayun tali, semangatnya hilang sudah, senyum manisnya sirna berganti dengan rasa takut, takut salah yang tidak di mengertinya , takut di cubit pipinya lagi, sakitnya sampai ke hati melukainya lagi dan lagi, andai saja dia boleh menawar jangan cubit di pipi, sebab pipinya montok maka daging yang terjawil cukup tebal sanggup membuatnya meringis lama.

Kedua orang tuanya memanggil sayang namanya Atih, usianya kurang lebih 4 tahun , dengan kulit putih  dan rambutnya yang kemerahan warisan ayahnya yang dari Manado, membuat Atih jadi yang paling cantik di antara teman sebayanya di sebuah desa kecil di perbatasan Jawa Barat dan Jawa tengah, namun kecantikannya itu tak membuatnya beruntung di sayangi temannya , malah sebaliknya membuat temannya senang mengolok ngolok dan memojokkannya, sebenarnya Atih bukan gadis kecil yang cengeng, dia tahan di olok olok atau pun di jahili asal tetap di ajak main , tetapi jika sudah di cubit di pipi, itu menyakitinya maka dia akan pulang menyerah sepanjang jalan ke rumah dia akan menangis memanggil Ibunya.

Tidak mudah bagi Atih si gadis kecil berbaju merah itu berada dalam lingkungan di mana hampir semua teman sepermainanya  mempunyai kakak ataupun adik lebih dari satu , ya rata rata satu keluarga di karuniai anak lebih dari 5 orang dengan jarak yang cukup dekat antara 2 atau 3 tahun, jadi jika atih berumur 4 tahun maka teman sebayanya mempunyai dua kakak yang berumur sekitar 7 atau pun 9 tahun lebih, cukup kuat untuk  gadis kecil usia 4 tahun sebagai tameng jika atih ingin melawan, apalagi jika temannya itu bungsu maka kakaknya akan bertambah banyak dan besar, sedangkan Atih terlahir tunggal , jadilah dia seperti anak ayam kehilangan induknya di medan tempatnya bermain, terbuka tanpa ada yang membelanya.
 Atihlah yang akan menjadi kambing hitam jika permainan itu gagal, dia yang kebagian jaga lebih lama dari kesempatan dia main. tak jarang tiba giliran dia main dia di lewat tanpa satu alasan pun.

 Satu-satunya naluri membela dirinya, adalah dengan membawa beberapa makanan dari rumah, dia bagikan ke temannya tanpa dia sendiri kebagian asal dia di ajak main, ya benar dia di ajak main selama makanan itu ada di tangannya, akan kembali lagi ke semula saat makanan Atih habis.kembali menjadi yang terintimidasi.

Hingga menginjak usia sekolah Atih masih berada di dalam lingkarann itu, lingkaran yang menekan hatinya tapi tak mampu di hindarinya sebab dia tak tahu bagaimana caranya, sekalipun  dia sudah berusaha menjadi Gadis baik hati seperti nasehat Ibunya tiap kali dia mengadu, jangan dendam, jangan marah nanti malah tidak punya teman, begitu nasehat Ibunya selalu, ingin sebenarnya Atih protes bahwa dia sudah baik tidak benci temannya tapi temannya tetap jahat kepadanya, tapi dia kembali tak bisa menyampaikan isi hatinya kepada Ibunya, otak anak anaknya tidak sanggup menjabarkanya dengan tepat.

 Di rumah dia sangat di kasihi, segala rasa sedih dan marahnya di tumpahlkan di rumah, Ayah dan Ibunya sangat memanjakannya. maklum dia Anak tunggal segala perhatian Ayah Ibunya tumpah padanya .
Di sekolah  teman temannya tak ada yang membuatnya nyaman , dia sering menangis di bangkunya karena di ledek teman temannya sebagai anak Jepang karena rambutnya yang merah, dia bukan orang sunda , tapi anak Orang Jepang sang penjajah, yang di buang dari kapal terbang , begitu teman lelakinya meledeknya.

Ibunya menghibur Gadis kecil yang sangat di sayanginya itu  dengan dongeng  bahwa bidadari di surga juga rambutnya berwarna emas kemerahan seperti rambutnya, sambil tertidur di pangkuan Ibunya yang mengusap usap sayang rambut nya Atih bisa melupakan kesedihanya meski di ujung matanya masih menggantung bercak bening sisa tangisnya dan dongeng itulah selalu mampu mereda tangis sedih atih.tiap kali  dia pulang sekolah dengan mata sembab.

Satu malam bulan purnama penuh, untuk anak anak desa di tahun 70 an , ini adalah waktu main malam hari yang sangat menyenangkan  di bawah cahaya bulan yang terang benderang, anak anak kecil berlarian dengan tawa riang, berbagai permainan tergelar di pelataran rumah luas tak berpagar, ada permainan menginjak bayangan, petak umpet, pecle, gatrik, simar, semua begitu ceria dengan permainannya masing2, para Orang tua sebagian duduk duduk di teras sambil memperhatikan keceriaan anak anaknya, begitu pun malam itu, Atih dan teman temannya bermain drama dramaan, dengan judul Cinderella, film yang sedang populer di masa itu di mainkan Ira Maya Sopha

Dan mereka di haruskan ganti baju sebelum drama itu, satu persatu teman Atih ganti baju di dalam kurung kain yang di pegangi teman nya bergantian , tiba giliran Atih ganti baju, kurung kain itu di lepas dan teman nya lari sambil tertawa, terbukalah aurat Atih yang sedang jongkok tanpa busana ,hanya memakai celana dalam , meski masih anak anak , hati Atih sangat terluka , di pungutinya bajunya satu satu dengan air mata berlinang dia malu terlebih hatinya luka entah sedalam apa dia tak pernah tahu.
.Atijh tak ikut main drama dramaan hanya duduk di teras dengan mata nanar hingga Ibunya menjemputnya pulang karena malam terlalu larut untuk anak sekecil Atih waktu itu.

 Moment itu menjadi sebuah ingatan panjang yang tak terhapus menimbulkan luka hati yang sangat dalam bagi Si Gadis kecil itu, padahal sebenarnya dia sangat menyukai permainan itu terbukti di antara semua teman sepermainanya hanya Atih yang terpilih sebagai pemeran utama di sebuah drama beneran yang di sutradai Guru ngajinya,di kemudian hari. dan dramanya itu sempat menjadi sebuah hiburan yang sangat di minati penduduk di seluruh desanya tak jarang Atih dan grup asuhan Ustadnya mendapat undangan tampil di tempat hajatan, usia Atih sudah sekitar 8 tahun saat itu.

 Dan di grup itulah pertama kalinya Atih merasakan sebuah penerimaan yang membuatnya nyaman dan, di hargai,tak lagi merasa terintimidasi, menjadi bahan olokan, dengan prestasinya itu dia mendapat teman baru, sayang tidak lama sebab kemudian sahabat barunya itu sekeluarga pindah ke Jakarta, dan Atih sangat terpukul sampai tak mau sekolah lagi.

Ibunya kewalahan , sudah di bujukknya berulang ulang tapi Atih tetap tidak mau kembali ke sekolah karena tak ada sahabat kecilnya di sana, sampai sampai dia minta Ibunya pindah ke Jakarta mencari sahabatnya.

Ibunya lalu memindahkan Atih ke sekolah baru, kebetulan teman teman nya di sana cukup baik dan menghormatinya, klas 5 dia waktu itu, di semester pertama Atih langsung mendudukli rangking 1, padahal sebelumnya Atih tak pernah secemerlang itu, ternyata intimidasi dari perlakuan teman teman sepermainnanya begitu kuat menekan jiwanya sehingga membuat Atih tak mampu berprestasi.padahal sejatinya dia mampu, begitu lama dia kehilangan waktu yang seharusnya bisa ternikmati dan mampu menyediakan ruang baginya untuk menunjukkan bakatnya.

Aku melihat bayangan Gadis kecil berbaju merah dengan mata sembab itu kembali, mendekatiku, menyentuhkan tanganya pada tanganku yang menempel di kaca yang berembun karena hujan belum jua usai, dini hari menjelang, bayangan itu merapat masuk dan menghilang di ujung jariku.

 Waktu telah lama berlalu, berganti ulang dengan ribuan moment.
Tak lagi bergaun merah di atas paha, tak lagi berkepang ekor kuda namun aura sedih nya belum juga pudar, Dejapukah hidupku ini...?
Kenapa setiap moment selalu dalam pola yang sama...?
Di persalahkan tanpa tahu mengapa, di hakimi tanpa sempat beralibi
Memberi semua yang ku punya bahkan tak sempat ku nikmati namun tetap saja menjadi yang terabaikan.


ya
Gadis kecil bergaun merah itu
Bersembunyi terkurung sedih dalam jiwaku.


by ; camar putih
      dini hari 10 maret 2012













Kamis, 08 Maret 2012

Rindu buat Ibu


Lama tak kulihat lagi senyum indahmu


yang senantiasa mengembang meski aku sedang terenggut amarah


ingin duduk di bersimpuh di pangkuanmu


menikmati hangatnya cinta yang tak bersyarat

satu satunya cinta yang tak akan terhianati

tak akan terbagi meski terbelah tanah yang terpijak

satu satunya cinta yang memberi hidup

yang memberi tanpa berhitung

yang tak mengenal kata pamrih

aku rindu padamu Ibu

lama sangat lama rasanya

tangan lembutmu tak membelaiku

tak kau lihatkah, kini aku seusiamu saat kau pertama
memberiku setetes air kehidupan.

telah kulakukan apa yang kau dahulu lakukan padaku

tapi rinduku tak berkurang padamu Ibu

dengan apa kini ku ketuk pintu langit

sementara tangan kasihmu tak lagi dapat ku minta mengetuknya demiku

Bu

dapatkah aku sepertimu kelak

di rindu buah hati seperti ku merindumu ??

akankah ku dapat untaian doa seindah Al fatihah

yang dikirim buah hatiku dengan segenap hati yang mecintamu ?

Sepertiku malam ini yang menguntai Al fatihah untukmu bersama linangan air mata rindu.


Tersesat



Dibayang bayang Fatamorgana

berharap hidup khusnul khotimah

berkaca pada bayangan yang memanjang di ambang senja

berdiri di hamparan padang yang tak bertepi

berharap sebelum senja tenggelam ada angin datang membawa jawaban

ada tempatku berteduh di ujung pandangan

berlindung dari dingin malam yang menguliti atau dari binatang lapar yang memangsa

di sana ada cahaya yang menghangatiku

menemaniku hingga lelap melupa angan yang tak kunjung tiba.

namun sepertinya anginpun tak lagi berpihak padaku

jangankan kabar yang dia bawa

desirnya pun tak sampai

aku ingin pulang namun arah kembali tak lagi ku jumpa

Selasa, 06 Maret 2012

Amarahmu itu


telah ku haturkan terima kasih atas budimu
putih hatiku meski amarahmu sehitam jelaga
tak ku mengerti sebab mula bencimu meluap
menghakimiku tanpa alibi
mengulitiku tanpa jeda
menyakitiku dengan segenap suka
kau bentangkan aral di jalanku
kau tebar racun di tempatku berpijak

tak hendak ku tantang amarah bencimu
meski lukaku sampai di ujung jari
lakukan apapun yang kau mau
puaskan bara di hatimu

semakin jahat kau lukai aku
semakin putih langit hatiku
semakin lembut awan mengajariku
semakin tulus senyumku meski terhianati tanpa batas

hidup tlah memberi tahuku
diamlah di sudut sabar saat orang bergerak menyerang
hiruplah udara ikhlas saat dada sesak menahan nyeri
duniamu juga duniaku berputar adanya
tak setetes air pun terloncat keluar lampaui atmosfir
sejak adam bermula hingga di batas akhir kelak
ku yakini itu . tak ada satupun yang tiada kembali kepada pelakunya
hitam putih tak akanlah tertukar
apatah pula
ada tempat yang DIA janjikan... untuk luka yang terabaikan
.

( untuk anakku : ratih annisa fitrianni.....


  • laut yang tak bergelombang tak akan menghasilkan pelaut yang tangguh.....
tetaplah teguh... tersenyumlah.. karena senyummu juara satu..... )


banjar 28o411

Senin, 05 Maret 2012

SAAT SEORANG IBU MERINDU



saat itu.... pukul 14:57 ·
" Pingin cepat sampai rumah, makan perkedel, sambel goreng kentang, nasi putih dan kerupuk udang, makan bareng mamah, di sini neng ga bisa nemu makanan seenak masakan mamah di rumah"

Itu sms terkirim 3 jam yang lalu, sekarang buah hatiku sedang dalam perjalanan pulang, masih 4 jam lagi dia sampai rumah, betapa bangga dan harunya hatiku ini, jika si Sulung sudah merengek dan merajuk merindukan masakan Ibunya, ini tahun ke dua dia jauh dariku, menuntut ilmu demi sebuah harapan masa depannya di kota Pelajar tempat Bapanya menuntut ilmu juga bertahun lalu dulu

.Dan Aku pun sibuk di dapur menyiapkan segala masakan yang dia pesan, keringatmenitik di luar panas luar biasa, ku seka dengan punggung tangan, semoga setiap tetesnya menjadi penghapus segala alpha dan khilafku  Ya Robb, bisikku berpamrih.

Perkedel sudah matang kuning renyah dan harum, aku lega pasti neng senang banget, aku tersenyum membayangkan muka anakku yang menahan air liur seperti biasa jika aku selesai masak  dan sudah pasti akan menjadi ajang rebutan bersama Adiknya nanti, ah.. rindu sekali aku padanya.

Tak lama sambel goreng kentang pun siap sudah, nasi putih dan kerupuk udang ku tata di meja. masih 1 jam lagi Anakku tiba di rumah sms terakhir dia bilang minta di jemput di Terminal.


Tepat 1 jam kemudian si Sulungku tiba di rumah dengan selamat, setelah mencium tanganku ku peluk dia ku cium pipinya masih tembem juga, ah tetap yang tercantik di mataku.
" Laperrrr..." dia membuka tudung saji dan langsung terlonjak gembira
 "Asyiikkk.. pesenan neng kumplitt, makasih mamah ..."
dan ku dapat lagi dua ciuman di pipiku darinya
" Eittt... cuci muka cuci tangan ganti baju dulu neng , bau bis ih..."
Aku melarangnya saat tangannya terulur mau menjawil perkedel di atas meja.
"Oh iyaaa...lupa mah.. kaya anak TK ya cuci tangan dan cuci muka ganti baju .. kaya papa "

 dia tertawa menuju kamarnya
"Mah, ini buat mamah .."
Neng kembali ke ruang makan dengan oleh oleh kecil di tanganya, kali ini aku yang berseru gembira
" Waaww.. kalung nya bagus banget neng, obinya juga cantik ... makasihh sayang "
Kali ini aku yang mendaratkan ciuman hangat di pipi anakku
."Murah mah.. cuma habis kurang dari 50 ribu tuh.."
" Mamah ganti uangnya deh nanti ya.."
"Siippp..." dia mengedipkan matanya senang, maklum mahasiswa uang sebesar itu pasti sangat berarti

.Acara makan bersama yang di tunggu pun tiba, Bapanya, juga Adit anak tengahku, si bungsu Papa, ikut meramaikan meja makan.dan benar benar terbayar lunas semua payahku berkutat di dapur tadi,semua makan dengan lahap, hanya sambel goreng kentang dan kerupuk yang tersisa karena memang ku buat banyak, Neng suka sambal goreng kentang itu  di hangatkan besok paginya, dan  kami namakan dongdo

."Kenapa makanan di sana ga ada yang seenak di sini ya Mah..??"
Sambil membereskan piring kotor Neng bertanya, di mulutnya terselip sepotong kerupuk udang.

"Mungkin yang Neng beli makanan yang murahan, coba yang di restoran mahal pasti enak Neng"
Kataku , tak urung rasa bangga bercampur haru kembali memenuhi rongga dadaku sungguh indah terasa
."Ya Mamah.. kalau temen Neng ulang tahun kan biasanya perbaikkan gizi jadi milih makanan atau restoran yang agak mahalan gitu, ah tetap saja kalah sama masakan Mamah.."

Sambil mencuci piring berdua, aku mencoba rendah hati meski rasanya mau teriak saking senang di puji habis habisan begitu sama Anakku.

"Mungkin karena , makanan yang pertama Neng makan waktu masih bayi juga makanan yang bertahun tahun masuk ke perut Neng kebanyakkan bikinan Mamah, jadi perut Neng sudah kenal dan terkondisi dengan rasa masakan Mamah .."
Air menciprat di bajuku saat ku basuh piring kotor di kran.

 " Ya enaklah Neng, di sini kan makan nya gratis, ga usah bayar.."
Adit meledek kakaknya
Neng mendelik

 "Nanti kalau kamu sudah kuliah baru tau rasa Dit.."
" Iya benar Neng, Bapa di Jakarta pun sama , bukan tentang mahal murahnya harga makanan. tetap saja enak makanan di rumah." Bapanya ikut menimpali.
 Wah.. tak tahan aku dengan rasa bangga dan haru yang makin membuncah tak tertampung lagi
.Senangnya di rindui mereka, rasanya aku mau masak terus apapun yang mereka mau  hehehe.

"Kata orang masakan akan terpengaruh oleh perasaan hati si pemasak, jika si pemasak memasak dengan hati riang gembira maka masakannya akan enak, dan sebaliknya jika si pemasak memasak dengan hati murung apalagi sambil ga rela bersungut sungut masakannya pun akan kurang enak."

Kembali aku berusaha bijaksana mereda bahagia."Dan bumbu penyedap yang tak akan di temui di restoran manapun adalah bumbu bernama Cinta,Cinta seorang Ibu terhadap anak anaknya, yang selalu khawatir perut anaknya kosong tak terisi dan lega jika ingat perut anaknya sudah terisi lengkap,apalagi jika bumbu Rindu di ikut sertakan, Insya Alloh tak akan terkalahkan deh.."

 " Sama Suaminya berlaku tidak ...?"
Suamiku tak mau kalah khawatir tak terlibat
Aku tersipu tak menjawab
."Mamah memang is the best..."
Neng mengacungkan jempolnya sambil tertawa

."Besok Neng mau cumi asam manis, udang tepung sama spagethi..boleh Mah ??" mata bulatnya menggodaku
."Siap ..." Aku membusungkan dada
.Dan semua berteriak kegirangan
.Anggaran bulanan melebar terbersit saat ku eja ulang di hati, udang dan cumi .?? hahahha

Harga, bukan lagi tentang uang jika itu sudah bicara tentang Cinta dan Rindu
Untuk Cinta dan Rindu kalian padaku ku bayar berapapun
Agar Cinta dan Rinduku pada kalian tak bertepuk sebelah tangan ku lakukan apapun.

Andai saja bisa ku beri tahu padamu Anakku
betapa Aku merindukanmu setiap hari, setiap saat selesai masak ingin kau pun turut mencicipinya


.Jika bukan demi masa depanmu yang tak bisa ku gelar tertata tanganku untukmu
maka tak akan ku biarkan satu pun Anak Anakku terlepas jauh dari jangkauan tanganku.

Aku merindukanmu Anakku
Sejak tendangan pertamamu di rahimku, tak berubah hingga di hari ini.

With love,for my  lovely daughter :         Ratih Annisa Fitrianni

camar putih, banjar 5 maret 2012.