Senin, 05 Maret 2012

SAAT SEORANG IBU MERINDU



saat itu.... pukul 14:57 ·
" Pingin cepat sampai rumah, makan perkedel, sambel goreng kentang, nasi putih dan kerupuk udang, makan bareng mamah, di sini neng ga bisa nemu makanan seenak masakan mamah di rumah"

Itu sms terkirim 3 jam yang lalu, sekarang buah hatiku sedang dalam perjalanan pulang, masih 4 jam lagi dia sampai rumah, betapa bangga dan harunya hatiku ini, jika si Sulung sudah merengek dan merajuk merindukan masakan Ibunya, ini tahun ke dua dia jauh dariku, menuntut ilmu demi sebuah harapan masa depannya di kota Pelajar tempat Bapanya menuntut ilmu juga bertahun lalu dulu

.Dan Aku pun sibuk di dapur menyiapkan segala masakan yang dia pesan, keringatmenitik di luar panas luar biasa, ku seka dengan punggung tangan, semoga setiap tetesnya menjadi penghapus segala alpha dan khilafku  Ya Robb, bisikku berpamrih.

Perkedel sudah matang kuning renyah dan harum, aku lega pasti neng senang banget, aku tersenyum membayangkan muka anakku yang menahan air liur seperti biasa jika aku selesai masak  dan sudah pasti akan menjadi ajang rebutan bersama Adiknya nanti, ah.. rindu sekali aku padanya.

Tak lama sambel goreng kentang pun siap sudah, nasi putih dan kerupuk udang ku tata di meja. masih 1 jam lagi Anakku tiba di rumah sms terakhir dia bilang minta di jemput di Terminal.


Tepat 1 jam kemudian si Sulungku tiba di rumah dengan selamat, setelah mencium tanganku ku peluk dia ku cium pipinya masih tembem juga, ah tetap yang tercantik di mataku.
" Laperrrr..." dia membuka tudung saji dan langsung terlonjak gembira
 "Asyiikkk.. pesenan neng kumplitt, makasih mamah ..."
dan ku dapat lagi dua ciuman di pipiku darinya
" Eittt... cuci muka cuci tangan ganti baju dulu neng , bau bis ih..."
Aku melarangnya saat tangannya terulur mau menjawil perkedel di atas meja.
"Oh iyaaa...lupa mah.. kaya anak TK ya cuci tangan dan cuci muka ganti baju .. kaya papa "

 dia tertawa menuju kamarnya
"Mah, ini buat mamah .."
Neng kembali ke ruang makan dengan oleh oleh kecil di tanganya, kali ini aku yang berseru gembira
" Waaww.. kalung nya bagus banget neng, obinya juga cantik ... makasihh sayang "
Kali ini aku yang mendaratkan ciuman hangat di pipi anakku
."Murah mah.. cuma habis kurang dari 50 ribu tuh.."
" Mamah ganti uangnya deh nanti ya.."
"Siippp..." dia mengedipkan matanya senang, maklum mahasiswa uang sebesar itu pasti sangat berarti

.Acara makan bersama yang di tunggu pun tiba, Bapanya, juga Adit anak tengahku, si bungsu Papa, ikut meramaikan meja makan.dan benar benar terbayar lunas semua payahku berkutat di dapur tadi,semua makan dengan lahap, hanya sambel goreng kentang dan kerupuk yang tersisa karena memang ku buat banyak, Neng suka sambal goreng kentang itu  di hangatkan besok paginya, dan  kami namakan dongdo

."Kenapa makanan di sana ga ada yang seenak di sini ya Mah..??"
Sambil membereskan piring kotor Neng bertanya, di mulutnya terselip sepotong kerupuk udang.

"Mungkin yang Neng beli makanan yang murahan, coba yang di restoran mahal pasti enak Neng"
Kataku , tak urung rasa bangga bercampur haru kembali memenuhi rongga dadaku sungguh indah terasa
."Ya Mamah.. kalau temen Neng ulang tahun kan biasanya perbaikkan gizi jadi milih makanan atau restoran yang agak mahalan gitu, ah tetap saja kalah sama masakan Mamah.."

Sambil mencuci piring berdua, aku mencoba rendah hati meski rasanya mau teriak saking senang di puji habis habisan begitu sama Anakku.

"Mungkin karena , makanan yang pertama Neng makan waktu masih bayi juga makanan yang bertahun tahun masuk ke perut Neng kebanyakkan bikinan Mamah, jadi perut Neng sudah kenal dan terkondisi dengan rasa masakan Mamah .."
Air menciprat di bajuku saat ku basuh piring kotor di kran.

 " Ya enaklah Neng, di sini kan makan nya gratis, ga usah bayar.."
Adit meledek kakaknya
Neng mendelik

 "Nanti kalau kamu sudah kuliah baru tau rasa Dit.."
" Iya benar Neng, Bapa di Jakarta pun sama , bukan tentang mahal murahnya harga makanan. tetap saja enak makanan di rumah." Bapanya ikut menimpali.
 Wah.. tak tahan aku dengan rasa bangga dan haru yang makin membuncah tak tertampung lagi
.Senangnya di rindui mereka, rasanya aku mau masak terus apapun yang mereka mau  hehehe.

"Kata orang masakan akan terpengaruh oleh perasaan hati si pemasak, jika si pemasak memasak dengan hati riang gembira maka masakannya akan enak, dan sebaliknya jika si pemasak memasak dengan hati murung apalagi sambil ga rela bersungut sungut masakannya pun akan kurang enak."

Kembali aku berusaha bijaksana mereda bahagia."Dan bumbu penyedap yang tak akan di temui di restoran manapun adalah bumbu bernama Cinta,Cinta seorang Ibu terhadap anak anaknya, yang selalu khawatir perut anaknya kosong tak terisi dan lega jika ingat perut anaknya sudah terisi lengkap,apalagi jika bumbu Rindu di ikut sertakan, Insya Alloh tak akan terkalahkan deh.."

 " Sama Suaminya berlaku tidak ...?"
Suamiku tak mau kalah khawatir tak terlibat
Aku tersipu tak menjawab
."Mamah memang is the best..."
Neng mengacungkan jempolnya sambil tertawa

."Besok Neng mau cumi asam manis, udang tepung sama spagethi..boleh Mah ??" mata bulatnya menggodaku
."Siap ..." Aku membusungkan dada
.Dan semua berteriak kegirangan
.Anggaran bulanan melebar terbersit saat ku eja ulang di hati, udang dan cumi .?? hahahha

Harga, bukan lagi tentang uang jika itu sudah bicara tentang Cinta dan Rindu
Untuk Cinta dan Rindu kalian padaku ku bayar berapapun
Agar Cinta dan Rinduku pada kalian tak bertepuk sebelah tangan ku lakukan apapun.

Andai saja bisa ku beri tahu padamu Anakku
betapa Aku merindukanmu setiap hari, setiap saat selesai masak ingin kau pun turut mencicipinya


.Jika bukan demi masa depanmu yang tak bisa ku gelar tertata tanganku untukmu
maka tak akan ku biarkan satu pun Anak Anakku terlepas jauh dari jangkauan tanganku.

Aku merindukanmu Anakku
Sejak tendangan pertamamu di rahimku, tak berubah hingga di hari ini.

With love,for my  lovely daughter :         Ratih Annisa Fitrianni

camar putih, banjar 5 maret 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar