Senin, 02 April 2012

Nasehat dari Ma Tua Tetanggaku


Sudah dua hari badanku terasa berat dan pegal pegal, teringat anakku yang sulung yang suka memijatku, tapi sekarang tidak bisa ku mintai tolong dengan segera, Yogya - Banjar  bukan jarak yang dekat sekedar hanya untuk memijatku.
Akhirnya aku meminta tolong Ma tukang pijat tetanggaku, Ba'da Maghrib  Dia sudah mengetuk pintu rumahku.
Seperti biasa sambil memijat Dia bercerita, dan selalu ceritanya suram penuh kesedihan.
Aku sambil menikmati pijitannya setia mendengarkan curhat si Ma malang ini.
"Kemarin Ma teh kabur Neng, mau kesini tapi malu.."
"Lho .. Ma kabur ..? kenapa Ma..?"
"Aahh hidup Ma mah gini terus Neng, sakit hati  sama Anak Anak "
Tangan kurus si Ma meluncur di betisku, Aku meringis meski kurus  namun tenaganya sanggup membuatku menahan nafas.
"Ya Alloh Ma.. coba kaburnya ke sini , seneng Aku ada yang mijitin, kenapa lagi dengan Anak Ma..?"
"Sama Mantu neng.." Si Ma terisak
Aku  tidak enak hati jadinya, sudah sedih mijitin lagi, tapi gimana dia ke sini buat mijit, dan untuk mengurangi sedihnya ku temani Si Ma curhat.
"Duh .. Mantu ko berani begitu Ma, apapun alasannya tetap tidak boleh kurang ajar sama Mertua"
Aku membelanya total.
"Ceritanya begini Neng,Ma kemarin panen, ya ngga banyak cuma sepetak Neng warisan orang tua Ma, satu satunya yang Ma pertahankan.." terdengar isak tertahan dan pijitan si Ma terasa tambah dalam aku meringis tapi ga berani protes.
"Mantu Ma minta uang hasil panen, tapi sama  Ma ga di kasih, dan Mantu Ma marah luar biasa sambil menendang pintu berkata, mau di bawa mati tuh uang..!. gitu katanya neng.."
Dadaku bergolak panas, gemes.
"Hati Ma ngilu sampai ga bisa makan, ga bisa tidur neng,sakit hati... dada Ma nyeri Neng.."
Tangan Si Ma rasanya sudah lewat 10 menit di punggungku ga pindah pindah di satu sisi saja  kembali aku ga berani protes, dadaku ikut sesak mendengar isak pilu wanita tua tetanggaku ini rasanya Si Ma bertambah tua sepuluh tahun duh.
"Padahal belum genap setahun panen yang kemarin uangnya di ambil Dia semua Neng, buat uang muka motor, yang nyicil Ma lagi, Dia janji mau bayar cicilannya tapi ya janji tinggal janji yang nagih datangnya ke rumah ya terpaksa Ma bayar."
"Anak Ma gimana..? apa membela Ma ..? "
" Ah... mana berani Neng, Mantu Ma kan galak, biasa di pukulin Anak Ma.."
Akhirnya tangan Si Ma berpindah ke sisi kanan punggungku, Aku lega.
"Motor itu pun akhirnya lepas juga karena di gadaikan sama Mantu Ma, sama Ma pernah di tebus sebenarnya Ma sampai menjual kalung hasil bertahun tahun panen tadinya simpanan kalau kalau Ma mati kalung itu di jual buat ngurus jenazahnya Ma karena Ma tahu Anak Anak Ma ga punya uang  , takut jenazah Ma ga ada yang nguburin."
"Lepas gimana Ma...?"
" Di gadaikan lagi sama mantu Ma, dan Ma ga bisa nebus lagi Neng."
Duh...
Aku benar benar gemes.
"Lalu kenapa Ma yang kabur ..? kan itu rumah Ma..?"
"Ma ga kuat lihat mukanya Neng, Ma sampai mengigil kalau berpas pasan muka di rumah.jadi Ma mengalah pergi ke rumah saudara di Tanjung sukur "
"Dia suka bantu ngurusin sawah Ma..?" Aku penasaran.
"Duh ...Neng jangankan mau bantu, Ma yang bawa gabah sendiri di gendong sekarung sekarung dari sawah ke rumah dia malah mandiin ayam saja,,giliran sudah jadi uang dia tahu,"
"Kurang ajar banget Mantu Ma ..."
Aku ga tahan untuk memaki, kebayang jarak sawah ke rumah Si Ma lebih dari 1 KM, dan jalan kaki, Masya Alloh.
"Mantu Ma cuma dua Neng, semua ga ada yang bisa di andalkan malah Anak Anak Ma juga lebih suka membela berpihak sama Suami Suami mereka tak peduli sama Ma, begitu juga Cucu Ma, tapi tiap hari tak pernah berhenti ada saja yang mereka minta"
Aku menghela nafas berat, menahan hati.
"Dan kalau Ma  habis ngurut mereka selalu tahu, maklum satu rumah, paginya ada saja alasan mereka perlu uang dan Ma ga bisa menolak" Si Ma melanjutkan dengan suara yang tak kalah berat.
Aku berbalik bagian tanganku yang di urut Si Ma, dan aku bisa leluasa melihat wajah tua di depanku ini, wajah yang hampir ga berdaging apalagi berlemak, hanya tulang berbalut kulit, serta nyawa yang membuatnya bergerak dan hidup, hatiku teriris.
"Ma .. sudah makan..?" iseng aku bertanya mengalihkan topik pembicaraan yang berat ini.
Sambil sedikit tersenyum, Aku sangsi itu bukan senyum tapi seringai yang sarat luka, mungkin Si Ma lupa caranya tersenyum.Si Ma menjawab pertanyaanku.
"Sudah Neng tadi siang di sawah, Ma makan cuma sekali ga bisa makan lagi.."
"Tadi di Sekolah botram Saya yang masak, Ma bawa ke rumah ya.." Aku membujuk.
"Tidak usah Neng..."
Si Ma berdiri sambil membereskan minyak bekas mengurutku selesai sudah tugasnya.
"Ma.. minum Vitamin ya.. ini ada multi Vitamin, biar Ma sehat "
Aku kebingungan bagai mana harus ikut meringankan beban hidup Si Ma, seperti benang kusut menggumpal di tubuh tipis nan ringkih di depanku ini. Aku bahkan risi memandang sepasang mata yang cekung menjorok ke dalam itu.
Aku memang jarang bertandang ke rumah tetangga, apalagi rumah Si Ma beda RT dan beda RW denganku.
Ku lirik Jam, lewat 2 jam dari Ba'da Maghrib, Si Ma bergegas pulang,setelah ku selipkan amplop seperti biasa aku mengantar Si Ma sampai halaman, seperti biasa juga Aku meminta maaf telah menguras tenaganya, tapi kali ini Aku benar benar meminta maaf, Aku merasa telah berbuat dzolim padanya, entahlah meski tidak sengaja Aku merasa telah berbuat keterlaluan.
Sampai larut malam wajah tua dan tubuh kurus Si Ma masih terus membayangiku, menuntutku untuk banyak bersyukur atas yang ku terima apapun itu dalam hidupku.
Pagi hari saat Aku membersihkan teras ku lihat Si Ma berjalan ke arahku,di tangannya ada keresek kecil
"Neng.. ini ada nasi timbel, padi baru, hasil panen..." katanya sambil sedikit berjongkok di teras.
Aku segera meraihnya kembali berdiri, dengan terkaget kaget.
"Duh Ma....jangan merepotkan"
Aku terbata bata.
"Tidak ada lauk pauknya Neng.."
"Ya ampun Ma..."
Si Ma dengan rasa tulusnya tak mampu ku tolak.
Aku merasa kena Skak mati.
Kalah telak.
Sampai Si Ma menghilang di belokan mulut gang, Aku masih mematung di teras, nasi timbel terasa hangat di tanganku harum daun pisang tercium pertanda baru di buat.wangi.
Aku belajar sangat berat, rasanya tak mampu ku kejar,
Mampu memberi di saat hidup sangat tak berpihak
Mampu tetap bertahan dengan rasa terabaikan yang teramat sangat
Mampu memberi di saat tak pernah menerima
Alloh Maha Adil... Aku percaya itu, tenanglah Ma
Alloh Maha mencatat, Maha melipat gandakan.
Ku susut bercak di pelupuk mataku.
Ampuni aku ..Ya Robby.
By:Camarputih, 2 April 2012, pukul 19.28