Rabu, 23 Mei 2012

Satu Hari, di Akhir Tahun...



"Ibu masuk..?"
"Iya sayang ayo kita masuk ajak temen temennya"
Aku berdiri dari kursiku dan ku simpan beberapa buku laporan harian yang sedang ku kerjakan, ku lirik jam sudah menunjuk di angka 9.30, waktu istirahat anak anak sudah habis, jadi ku iya kan saat Wulan bertanya  barusan.Anak anak berlarian masuk dan mengerubungi mejaku, beberapa wajah mungil ini nampak merah mengkilat basah oleh keringat, hmmm... aktifitas mereka memang tidak ada duanya berlari dan bergerak terus menerus selam 30 menit waktu istirahat membuat darah di tubuh mereka mengalir deras dan lancar. Ku ajak mereka untuk cuci tangan dan membasuh wajah mereka agar lebih segar.
15 menit kemudian, aku sudah duduk bersimpuh di lingkaran bersama anak anak yang hendak berdoa bersiap hendak pulang, namun sebagian besar anak anakku masih berlarian di dalam kelas tak menghiraukan tepuk tangannku yang mengajak mereka duduk di lingkaran.
"Nabil, Kiki, Fathan, ayo duduk sayang.. kita mau berdoa  .."Kutangkap lengan mereka satu satu ketika mereka berkelit hendak lari, malah senang mereka menggodaku, dan aku menghela nafas."Siapa yang mau pulangggg....?."
"Akuuu....." yang menjawab mereka yang sudah duduk manis berhimpitan didekatku semua ingin menjadi yang paling dekat denganku jadi lingkaran tak juga bagus bertumpuk di sisi kanan kiriku."Tepuk satu... prokk... tepuk dua... prok..." Yang tepuk tetap mereka yang bertumpuk ini, yang lain masih sibuk dengan kesenangannya masing masing, tetap dengan lari larian berkejaran di ruangan , enath apa yang membuat mereka begitu senang saling mengejar, ada yang ketawa ketawa saling dorong, ada juga yang ngobrol dengan asyiknya enath apa topiknya seru banget sepertinya sehingga tak peduli padaku yang berkali kali gagal meminta perhatian mereka.
"Satu... dua... tiga.... empat ... lima....." Aku berhitung tetap duduk di lingkaran sambil memejamkan mata."Enam.. tujuh ... delapan... sembilan...." Ku dengar anak anak berlarian berebut tempat duduk di lingkaran sambil mengikutiku berhitung. Alhamdulillah ... hatiku lega akhirnya tertarik juga mereka."Sepuluh ... sebelas ... dua belas.... tiga belas..." Tanpa ku lihat sebab aku juga menutup mata dengan tenang, aku tahu sambil ngos ngosan mereka mencoba menutup mata, peraturannya yang sudah bisa memejamkan mata dengan baik maka tak lagi ikut berhitung, mata di tutup dengan sikap tenang , menarik nafas dalam dalam, lalu di hembusakan lagi, terus begitu berulang ulang sampai hitungan benar benar berhenti dan tak ada yang mengintip, jika mereka semua mengikuti peraturan akan ada kejutan, begitu permainannya.
"Dua puluh satu... dua puluh dua.. dua puluh tiga .. dua puluh empat..."Dan hitungan benar benar berhenti... tak ada satu pun anak yang mengeluarkan suara, giliran aku membuka mata dan bersuaara dengan perlahan agar mereka tetap berkonsentrasi.
"Datang tidak ya..... ? apakah masih ada yang mengintip...?  kalau masih ada yang tidak menutup mata dengan benar maka dia tidak akan datang.." Subhanalloh... setiap kali situasinya begini aku selalu takjub, semua duduk rapi melingkar dengan mata tertutup tangan di pangkuan, sungguh wajah wajah polos yang berenergi luar biasa, ternyata hanya membutuhkan hitungan tak lebih dari 25, berarti sekitar 25 detik mereka sudah bisa berkonsetrasi dengan cepat.
Kegiatan menutup mata ini, sengaja ku berikan pada mereka dengan tujuan menurunkan aktifitas mereka yang pasti membuat segala pergerakkan di dalam tubuhnya juga berada pada tingkat yang maksimal, dengan menutup mata aku berharap, mereka bisa cukup tenang, adrenalin nya juga menurun, tapi konsentrasi tetap optimal, sehingga waktu pulang mereka dalam kondisi yang prima tidak kelelahan, mereka pulang dengan badan yang bugar. Insya Alloh.
Agar mereka mau menutup mata, aku katakan jika mereka tak mengintip akan ada kejutan, nanti ada beberapa dari anak anak yang mendapatkannya, tapi di larang keras mengatakan apapun kejutan dan hadiah yang mereka dapatkan pada temannya sebab jika di bocorkan maka dia tak akan datang lagi memberi kejutan serta hadiah pun tak akan ada lagi, ku buat perjanjian itu, dan mereka menyetujuinya dengan senang hati, permainan ini sudah berlangsung sekitar dua bulan lebih dan anak anak masih antusias.
Dan aku pun berkeliling di dalam lingkaran memastikan semua anak anak menutup mata dengan baik tanpa mengintip dan mencari anak  yang paling baik sikapnya sejak awal."Mana yaaa..... anak yang paling sholeh.. anak yang paling baik... anak yang paling manis hari ini.." Suaraku ku buat perlahan, setengah berbisik menjaga agar mereka tetap konsentrasi.Tak ada satu pun yang berteriak akuuuuu...di bibir mereka tersungging senyum berharap merekalah yang terpilih.
"Anakku sayang... Ibu sayang padamu... jadilah anak pintar matahari bangsaku.." Aku bersenandung perlahan dan mendekati Mila, yang dari sejak awal begitu manis menuruti semua peraturannya beberapa detik aku di dekat Mila sambil tetap memastikan tak ada yang mengintip.Setelah beberapa detik yang ku butuhkan untuk memberi hadiah pada anak yang termanis di hari ini, aku kembali duduk di lingkaran "Dua'an...."Sambil menunduk aku mengajak mereka semua berdoa di akhir kegiatan dan itu juga sebagai tanda bahwa mereka boleh  membuka mata.Setelah selesai berdoa, maka suasana menjadi sangat menyenangkan semua anak dengan wajah bertanya melihat padaku."Makasih anak anak sudah mengikuti sulap ibu, siapa yaaaa ... yang hari ini dapat hadiah...?"" Aku ibuuu...." Mila dengan semangat mengacungkan tangannya, serentak semua mata tertuju sama Mila yang tersenyum senang, tak ada apapun di tangannya. dan semua bertepuk tangan  meski penasaran terbayang jelas di wajah mereka.
"Alhamdulillah.... karena Mila hari ini jadi anak yang paling manis jadi mendapat hadiah dari ibu, dan kalian semua juga mendapat hadiah karena berdoa dengan baik, hadiahnya berupa pahala dari Alloh yang Maha Penyayang..""Ibu  aku mau dapat hadiahnya..."
"Aku jugaaa..."
"Aku juga.."Semua antusias mengacungkan tangannya."Baiklah besok kita bikin lagi ya....besok giliran kalian yang mendapat hadiah.."
"Janji ya buu..."
"Baiklah ibu janji.. " Kataku sambil mengacungkan jari kelingkingku."Horeee...."
Untuk menjaga antusias mereka agar tidak bosan  memang tidak tiap hari aku mengadakan permainan ini, hanya saat anak anak agak susah di ajak berdoa di akhir kegiatan saja.Memang benar rasio perbandingan 12 atau maksimal 15 orang anak untuk 1 orang guru  itu pun anak yang berusia 5 sampai 6 tahun. sangat terasa saat 41 orang anak kupegang sendirian, sebab guru yang lain sedang mengerjakan banyak pekerjaan menjelang akhir tahun , juga karena tema pelajaran yang harus di berikan sama anak anak sudah tuntas semua Alhamdulillah.Dan ketika mereka sudah pulang satu demi satu,  kulihat Mila di rubungi teman temannya dengan wajah yang sumringah Mila menggeleng gelengkan kepalanya saat teman temannya bertanyaa pa sih hadiahnya sebab dia tahu dan berjajni tidak akan memberi tahu teman temannya tentang hadiahnya itu .Senyumnya cantik sekali, aku tahu meski tidak seberapa hadiah yang aku berikan tapi sangat mereka sukai aku tahu dari wajah dan senyum mereka yang selalu tampak mengembang tanda bahagia  saat mereka menerima hadiah itu dariku.
Memang sangat sederhana, tak harus membeli sesuatu barang, tapi ku pastikan dan aku tahu setiap mereka sangat menyukainya meski tak berbentuk nyata .Sangat murah dan sangat gampang namun nilainya aku pastikan membuat anak anak bahagia melebihi saat mereka di berikan hadiah berbentuk kado,yang kadang bisa saja isinya mungkin  bukan yang di inginkan si anak.
Hadiah yang ku berikan adalah sebuah ciuman kecil di kedua belah pipi Mila, lalu ku peluk  dengan hangat, ku biarkan mereka memelukku beberapa saat, dengan mata tetap terpejam , aku selalu melihat senyum di bibir mereka, dan entah siapapun yang ku pilih untuk mendapatkan hadiah itu, semua dari mereka tersenyum saat ku cium pipinya dan memelukku erat cukup lama .
Mereka suka di cium dan mereka suka di peluk, luar biasa bahagianya mereka.
Saat esok harinya aku selalu mendapat sepasang mata yang ceria mendekatiku
"Ibuuu......"
"Iyaaaa... ada apa sayang...?"
Tak ada jawaban selain senyum dan mata ceria bercahaya lalu kemanjaan khas anak anak, dan aku mengerti
" Sini mau di peluk lagi...??" Aku pun berjongkok ku rentangkan tangan sambil tersenyum.
dan "Ibuuuu .. aku mau.....""Aku juga...."
Tak hanya satu jadinya yang jatuh kepelukanku kadang malah aku yang terjatuh ke belakang bersama sama.
Sweet memory.
In my heart
In my life
Wonderfull

Makasih anak anakku..
Makasih Ya Alloh  ya Robby
Engkaulah sumber kasih sayang itu.


dini hari, banjar 22 mei 2012
by ; camar putih.

Rabu, 02 Mei 2012

Sekilas tentang Ummi kami

Di sekolah Beliau di panggil Ummi, mengikuti putra putrinya yang memanggilnya demikian, Beliau adalah Kepala Sekolah RA tempatku mengajar, sebenarnya aku telah mengenal Beliau jauh sebelum aku mengajar di sini, sebab Ibunda Beliau adalah Guruku sewaktu aku di SD berpuluh tahun silam  sehingga kami sering melihatnya sebagai putrinya Bu Sum .
Ketika aku SMA kemudian adik beliau adalah teman karibku , rumahnya tempat kami berkumpul kalau mengerjakan tugas kelompok atau hanya sekedar kongkow kongkow makan siang sepulang sekolah bikin nasi liwet atau hanya bikin rujakan rame rame, di sinilah aku lebih sering ketemu, hingga akhirnya Beliau menikah dengan salah satu sahabat penanya, ya waktu itu tahun 1987 belum ada FB ataupun HP, semua komunikasi jarak jauh lebih memakai surat menyurat saja.Ada yang lucu dari pernikahan Beliau ini yang sering menjadi bahan gurauan kami, ternyata sahabat penanya yang berasal dari Lombok itu, hanya baru ketemu sekali  dan itupun langsung khitbah ternyata sangat kontras dengan Ummi, membuat kami tersenyum geli.
Ummi dengan postur tubuh yang semampai, semeter ga sampai bersanding dengan suaminya yang tinggi hampir 175 lebih nampak menjulang bersanding di sisi Ummi, yang satu pendek bulat yang satunya kurus ramping, maka kami memanggilnya pasangan jempol dan telunjuk.Ummi akan tersenyum saja jika kami meledeknya.
Di kemudian hari suaminya Ummi inilah yang menjadi guru ngaji dan pembingbing kami lebih dalam mempelajari Islam.
Beberapa waktu berlalu aku pun kemudian menikah dan mengikuti suamiku ke tempat kerjanya, ada beberapa tahun yang karena kesibukan kami masing masing sempat kehilangan kontak, tetapi Alloh selalu mengumpulkan kembali apa yang terserak, ada beberapa moment di mana aku  kembali ke rumah Ummi, anakku yang kedua di sunat juga di tempat Ummi dan kini saat si kecilku menginjak usia sekolah Alloh mengirimku kembali ke rumah Ummi.
Setiap hari bersama, berinteraksi dengan intens, membuatku lebih punya banyak kesempatan belajar pada Beliau.Ada beberapa moment yang begitu menyentuhku dan ku jadikan itu pembelajaran yang sangat berharga dan luar biasa yang jarang ku temui lagi di era perempuan begitu maju pesat dalam kesetaraan haknya.
Aku ingat sewaktu aku kecil sekitar tahun 70 an, adalah hal yang lumrah dan merupakan kewajiban , seorang Ibu, seorang Istri berada di rumahnya, pada saat sang suami pergi ke kantor ataupun ke tempat kerjanya, fenomena istri pekerja belum begitu booming seperti saat ini.
Jika suami berangkat kerja dan anak anak pergi sekolah, sudah di pastikan  Ibu ada di rumah, sehingga saat mereka pulang kembali   pasti menemui Ibu atau Istrinya di rumah.Sungguh menetramkan setelah seharian berada di luar rumah ada tempat nyaman untuk kembali beserta sambutan yang tulus dan hangat.
Berbeda jauh dengan sekarang , kadang saat berangkat di pagi hari menuju sekolah, aku melihat begitu banyak perempuan cantik cantik berpakaian rapi berseragam kantoran keluar meninggalkan rumahnya, begitu banyak rumah rumah yang jauh lebih bagus dan mewah di banding rumah jaman dulu tapi kosong tak berpenghuni tak ada penjaganya, kalau pun ada hanyalah pembantu yang tak merasa berwenang atas rumahnya itu. Tak jarang pula saat suami pulang kerja, atau pun anak anak pulang sekolah tak mereka temui Ibu yang hangat menyambutnya di rumah.Rumah mewah menjadi sunyi dan sepi.
Mau bagai mana lagi itu adalah tuntutan jaman, begitu kilah mereka.
Dan di sinilah luar biasanya Ummi, meski memang merupakan keberuntungan bagi Beliau, bahwa sekolah tempat Beliau bekerja menyatu dengan rumahnya sehingga akses ke rumah hanya beberapa langkah saja.
Di saat saat jam pelajaran berlangsung ataupun di saat Beliau menerima tamu di kantor, terkadang jika kebetulan Ustad ada di rumah, tiba tiba Ustad dengan kemanjaan seorang suami menghampiri Ummi di sekolah dengan menepuk nepuk perutnya, dan Ummi apapun yang sedang di kerjakannya, sepenting apapun tamu yang harus di hadapi  segera Beliau tinggalkan semua nya di tunda dan di delegasikan pada kami para guru, lalu Beliau kembali ke rumah untuk melayani Ustad meski itu hanya untuk menyendokkan nasi karena nasi dan sayur, lauk pauk sudah tersedia, lalu Beliau menemani Ustad makan sampai selesai.
Atau di lain waktu, aku masih ingat hari itu Ummi akan menghadiri reunian teman SMA nya, sudah deal dan di tunggu di rumah makan yang terkenal di kota kami, Ummi sudah siap di antar putra sulungnya, selain untuk menghadiri reunian yang pasti menyenangkan bertemu teman lama, Ummi pun sudah sepakat untuk mengantar proposal pembangunan yayasan dengan teman lamanya yang akan ikut menjadi donatur. Tetapi aku terkaget kaget sewaktu Beliau malah mampir ke rumahku dan meminta aku yang mengantarkan proposal itu,ku lirik baju panjang Ummi yang sepertinya baru, mewakili hati Beliau yang pastinya senang berbalut kerinduan pada teman teman karibnya .
"Ko malah belok ke sini Ummi, kan mau menghadiri reuni ?" Tanyaku heran 
"Ummi tidak bisa datang tolong antarkan proposal ini ya "
"Kenapa Mi ?" Aku penasaran
"Tadinya mau datang, kebetulan Ustad lagi ada rapat, ternyata rapatnya lebih cepat selesai dari dugaan, jadi sekarang Ustad sudah di rumah dan belum makan "
Aku bengong.
Aku kagum, aku berani bertaruh tak banyak Istri yang sekualitas Ummi di jaman sekarang ini.
Di waktu yang lain kami kedatangan tamu yang akan study banding di sekolah kami, maka kami pun bersiap dengan menyediakan makan siang untuk para tamu kami ini, singkat cerita acara silaturahim itu berjalan lancar sampai di acara makan siang tepat jam1.00 , perut kami sudah sangat kelaparan, kami bersama tamu makan dengan lahap di selingi diskusi kecil yang seru, ku lihat Ummi pun makan dengan gembira tak kalah lahap.Tiba tiba tanpa sempat aku tahu kenapa Ummi meninggalkan jamuan makan itu, ku lihat di piringnya masih tertinggal makanannnya lebih dari separuh berati Ummi makan belum banyak, lama sampai piring kami sudah bersih Ummi belum juga kembali.
Sambil mengangkat piring sebagian, aku bertanya pada putri bungsu Ummi.
"Ummi kemana khotun ?" Aku berbisik.
"Nemenin Abi makan." jawab gadis 7 tahun itu enteng
Aku terharu, sebab aku yakin Ummi tak akan makan selahap sebelumnya  saat nanti harus menghabiskan makanan di piringnya yang tersisa tadi.

Beliau adalah sedikit perempuan yang ada di masa sekarang ini, di mana pengabdian kepada suami menjadi skala prioritas di atas apapun  atau siapapun itu. meski termasuk wanita pekerja yang tak kalah menyita waktu dan pikiran kemudian tak lantas menjadikan egonya  yang harus di mengerti ataupun menjadi yang harus di maklumi.
Yang sering ku dengar, ku lihat dan ku simak,  banyak perempuan berkarir kemudian mengeluh saat harus melayani Suami, toh aku pun bekerja, aku pun cape, aku pun mencari uang, saling pengertianlah, bukankah sendiri pun bisa.
Iya benar, bahwa standar hidup kini semakin tinggi tak cukup lagi hanya sandang, pangan, dan papan yang harus terpenuhi, banyak yang terselip di antara ketiganya yang jumlahnya kadang melebihi yang primer.
Akan tetapi siapakah yang membuat standar itu ?
Jika seorang perempuan berpendidikan tinggi mutlakkah harus menjadi wanita karier ?
Seakan akan menjadi mubajir tatkala seorang anak perempuan yang bertitel tinggi hanya menjadi ibu rumah tangga biasa mengurus anak dan suami serta menjadi pengurus rumah tangga. sebuah pekerjaan yang tanpa prestise.
Menjadi sebuah kebanggan jika wanita menjadi seorang pekerja, yang kadang bukan lagi hanya nafkah yang menjadi tolak ukur , akan tetapi sudah bergeser menjadi fenomena aktualisasi diri agar di hargai, di hormati, bahkan di dalam rumah tangga sekali pun menjadi kabur batasan antara pemimpin rumah tangga dengan yang di pimpin, sekarang siapa yang lebih banyak menghasilkan uang dialah pemegang kendali, dialah pemutus arah biduk rumah tangga.

Kepada Ummi aku belajar, bahwa mempunyai pekerjaan sampingan di luar rumah sepenting apapun jabatan kita, rumah, suami dan anak adalah tetap priorits tertinggi, tak ada alasan untuk mengeluh, tak ada alasan untuk menjadikan pekerjaan kita tameng dari kemalasan ego kita.
Sesepele apapu n itu di mata umum, merupakan hal yang terpenting jika itu sudah mengenai suami dan anak  anak
Sebab kewajiban yang utama kita adalah di rumah, jabatan kita sebagai istri dan ibu, itu yang akan di mintai pertanggung jawabannya kelak.
Sebuah jabatan dan kedudukan yang tidak akan bisa diberikan perusahaan manapun, meski dengan gajih milyaran dollaran sekali pun.
Sebuah jabatan dan kedudukan yang tak akan di berikan meski dengan ijazah dari universitas paling bergengsi sekalipun
Sebuah jabatan dan kedudukan yang akan mengantarkan kita ke sorga dengan mulus dan cepat.
Terima kasih Ummi 
Semoga tetap sehat, apapun mimpi yang belum usai, semoga di mudahkan agar segera terwujud entah dari mana datangnya bantuan itu, Alloh Maha  Memberi, tak ada satu pun makhluk yang dapat menghadangnya, jika Alloh berkehendak maka jadilah.
Tetap semangat Ummi.
Jangan sedih saat terlukai.
Alloh Maha Melihat, semua payah dan lelahmu
Semoga Alloh membalasnya dengan segenap kebaikkan yang terbentang sehamparan bumi dan selebaran naungan langit.
Teruslah bermimpi dengan doa Ummi.
Sebab dalam ingin dan harapmu, RidhoNYA berada.
Amin
Amin .





 banjar, dini hari, 01.30.
2 mei 2012
 camar putih