Senin, 27 Februari 2012

Cerita seorang Bunda..


  Jam istirahat 09.00 aku menghela nafas, hari ini anak anak sungguh manis tak ada yang menjerit jerit histeris memanggil manggilku karena berebutan sesuatu dengan temannya, ku lihat bundanya Nadya mencariku.
" Mau ke Ibu Teni sebentar.."
"Oh iya silahkan masuk Ibu " dengan senyum aku menyambutnya dan mempersilahkannya duduk.
"Maaf mengganggu bu, ini saya punya catatan kecil yang saya tulis tadi malam tentang kisah Nadya waktu kecil, Saya ingin Ibu menulis ulang, siapa tahu ada manfaatnya " bunda Nadya menyerahkan selembar kertas padaku.
" Oh ya... ? dengan senang hati Bu , nanti saya akan tulis kembali, setelah jadi nanti saya print untuk Ibu " Aku menerima kertas itu dengan gembira, senang rasanya bisa membuat seseorang tergerak, Alhamdulillah.
Dan inilah ceritanya.

*MY LITTLE ANGEL*

Terlahir 6 tahun yang lalu, tepatnya 14 Januari 2006 di sebuah klinik bersalin yang sudah familiar di kota Banjar.Kelahirannya sangat ku nantikan dengan harap harap cemas, dan Aku rela meninggalkan segala aktifitasku di Bandung yang sesungguhnya sangat ku nilkmati, demi kerinduanku akan kehadiran si buah hati.

Dan akhirnya setelah 8 bulan menunggu tibalah saat yang menggembirakan itu , aku di nyatakan positif hamil oleh dokter yang merawatku sungguh bahagianya aku juga suamiku, dan 9 bulan mengandung terlewati tanpa kendala sungguh kehamilan yang menyenangkan, hingga kemudian lahirlah buah hatiku, Subhanalloh sungguh bayi yang sangat cantik kami membari nama yang sangat indah NADYA AURELIA PUTRI MULYANA.

Nadya kecil tumbuh sebagai bayi yang sehat, cantik, Aku merawatnya dengan sangat bahagia , hingga dia kemudian tumbuh menjadi anak yang ceria, cerdas dan pandai bergaul, dia sangat suka bermain, dia cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan yang baru sekali pun.

Namun ada yang sangat ku sesali, dan perasaan itu selalu menghantuiku sebagai rasa bersalah pada buah hatiku yang sangat ku kasihi itu, itulah kenapa catatan kecil ini ku buat. Sewaktu Nadya berusia setahun, aku ada sedikit ganjalan dengan anak tetanggaku depan rumah , sikapnya membuat aku tidak suka padanya , dan ini berimbas pada ruang gerak bermain Nadya, Aku tidak memperbolehkan Nadya main di luar rumah, dia hanya keluar rumah hanya apabila Aku mengajaknya main dengan sepeda roda 3 mengitari komplek, lain itu Aku mengurungnya di dalam rumah terus menerus. Nadyaku tidak rewel tetapi sungguh lewat mata bulatnya yang bening itu yang memperlihatkan rasa sukanya yang sangat ketika bisa melihat dunia luar, langit, awan, pepohonan dan orang orang yang berlalu lalang, sungguh andai saja saat itu dia sudah pandai berbicara pastilah dia memohon dengan sangat untuk di perbolehkan main di luar rumah, Nadyaku yang cantik dengan rambutnya yang hitam legam, pipinya yang putih dan montok senyum nya yang ceria, dan sepasang mata bening yang sangat indah selalu mampu membuat orang orang selalu menyempatkan menyapanya, menjawil pipi montoknya.
Ah... aku teringat betapa sedihnya mata bening Nadya saat dia mengintip dari balik kaca atau paling bisa dia mengintip dari balik pagar besi rumahlku, teman teman sebayanya berlarian riang di halaman rumah sebagian melambaikan tangan padanya, tak ada ada kata protes apapun dari mulut mungilnya, namun aku tahu pasti dia juga ingin bermain bersama teman temannya.

Dan waktu berlalu hingga dia berusia 3 tahun , jika ku ingat itu aku tak mampu menahan air mata yang mengalir dari pipiku, baru ku sadari itu, setelah kemudian di usia Nadya yang ke 3 itu kami pindah rumah, di lingkungan baru ini, aku lebih nyaman dan kemudian memperbolehkan Nadya bermain dengan anak anak di lingkungan rumah, sungguh aku terpana betapa cepatnya Nadya mempunyai banyak teman mulai dari yang sebaya hingga yang beberapa tahun di atas umurnya, semua antusias bermain dengan Nadya,dan dia sangat menikmati dunianya. Aku merasa telah merenggut masa kecilnya yang indah hanya karena keegoisan dan kesempitanku dalam memahami.Sungguh rasa bersalah itu sangat menggangguku. dan sebagai upayaku menebus rasa bersalahku padanya Aku memasukkan Nadya di sekolah PAUD, betapa senangnya dia...Subhanalloh... bak kuda lepas tali kekangnya, dia berlari sekencang kencangnya menikmati kebebasannya seolah mengatakan , Bunda salah telah mengurungku...duh maafkan bunda sayang.

Kembali Nadya membuktikan betapa dia sangat menikmati kebebasannya, di PAUD dia meraih berbagai kejuaraan di beberapa event  kejuaraan di wilayah kota Banjar,lomba busana muslim tingkat PAUD,TK,RA, lomba mewarnai YAMAHA FORTUNA BANJAR,dalam rangka hari anak bahkan dia sempat mendapat ciuman dari Ibu Walikota.dan Guru Guru di PAUD punsangat menyanyangi Nadya  hingga masa sekolah usai dan harus masuk TK , Guru Guru nya sangat kehilangan Nadya.sampai hari ini kami masih berhubungan baik dengan Guru Gurunya itu

6 tahun kini usia Nadya, tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan periang.Malaikat kecilku yang telah merubah warna hidupku dari seorang yang sangat individualistis menjadi lebih terbuka, lebih ramah, dan lebih santai menghadapi lingkunganku, tawanya yang riang, celotehnya yang ceriwis senantiasa menghiasi hari hariku  semuanya mampu mengusir sedih dan dukaku.

Satu permintaan yang belum mampu ku penuhi , Nadyaku minta adik....
" Mama kapan aku punya ade bayi....??" tanyanya tak sabar
"Sabar sayang.. kita minta sama Alloh yang Maha pengasih agar segera memberi teman kecil untuk Nadya bermain ya .." ku elus rambut hitamnya yang tebal.
Saat menulis catatan ini dia tidur lelap di sampingku , ku tatap wajah polos yang mungkin sedang bermimpi ini ini aku berbisik di hatiku
" Sedang mimpi apa kamu sayang, mimpi jadi dokterkah atau mimpi punya adik baru....?"
Kucium dahinya.
Sebaris Doa ku panjatklan padaMu
" Ya Alloh yang tidak pernah lalai menjagai kami, lindungilah kami senantiasa , beri kami kekuatan untuk mampu merawat Nadya dengan baik hingga tercapai cita citanya,Amin"

               Selamat malam... Selamat tidur Nadya sayang....

                                                                                TRUE STORY by
                                                                                                               Bunda Nadya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar