Dua telaga bening ini Selalu mampu meruntuhkan hatiku membuatku tak berdaya saat ia meminta Dua telaga bening ini Selalu mampu mengajariku bahwa duka tak selamanya air mata Dua telaga bening ini Selalu mampu membuatku berdada lapang seluas samudra Dalam lepas gelak tawa riangnya Ku dapatkan indahnya hidup Dalam rengekan manjanya Kudapatkan betapa berartinya diriku melebihi dunia beserta isinya baginya Dalam cerewet dan sejuta tanyanya Kudapatkan pelajaran yang tak pernah berwisuda .Ya Robbi tak putus Syukurku, Terimakasih telah hidupkan Ia untukku, Di sebuah malam menjelang Iedul Fitri Hadir dengan senyum Malaikat di pangkuanku by ;Camar putih, 24 April 2011
Pagiku agak terburu buru, semalam sampai larut menyelesaikan administrasi harian Sekolah, kunjungan penilaian untuk Akreditasi Sekolah cukup menyita waktu dan energiku juga untuk Guru Guru yang lain. Sampai di Sekolah masih ada beberapa laporan yang harus segera di bereskan, Anak anak mengerubutiku meminta di temani membaca Iqro kegiatan rutin tiap pagi sebelum jam pelajaran di mulai. Dan Aku k ewalahan juga. "Ayo sayang .. baca Iqronya sama Bu Itit ya..." Beberapa kemudian kembali ke kelas, Dika masih mengintip di pintu enggan beranjak, dahinya berkerut . "Ibu selesaikan laporan dulu ya, Dika baca Iqronya sama Bu Itit ya.." Aku membujuk dengan senyum, dan Dika pun beringsut masuk kelas di wajahnya tak ada senyum. Belum juga ku mulai laporan harian yang harus segera ku selesaikan itu , Tiba tiba ada tamu, sepertinya Orang Tua murid namun Aku lupa Ibunya siapa ya. ?pikirku sambil berdiri menyambutnya. "Assalamu'alaikum.....
Aku melihatnya di antara bayangan, Memantul di jendela kaca seusai hujan, memakai gaun berwarna merah dengan bunga bunga di ujung gaunnya menggantung di atas paha putihnya yang kecil, rambut merahnya di kepang ekor kuda,bergoyang lucu di atas tengkuknya saat dia berlari ,bibir mungilnya merah, pipi montoknya dengan sebentuk lesung pipit kecil juga bersemu merah, dia berlari menuju pintu sesaat teriakkan teman temannya di halaman memanggil namanya mengajaknya main. "Ibu aku main..." Tak sempat Ibunya menjawab, si kecil sudah menghilang di balik pintu, sudah lupa dia baru beberapa menit yang lalu dia pulang main dengan mata penuh air mata, baginya teriakan temannya di halaman mengajaknya main sudah merupakan pelipur hatinya melupakan tragedi yang selalu terulang.dan merupakan permintaan maaf teman temannya tanpa kata. Ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya tak sempat menahan, berharap dia pulang nanti dengan tawa. Dan, di sinilah Si Gadis kecil itu berada ...
Komentar
Posting Komentar